Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiAmos 3:10 Tafsiran ayat Alkitab
Amos 3:10 Penjelasan dan tafsiran ayat Alkitab
Karena tiada lagi diketahuinya berbuat barang yang betul, demikianlah firman Tuhan; mereka itu yang mengumpulkan harta benda dalam maligainya dengan pengagah dan perampas.
Amos 3:10 Tafsiran ayat Alkitab
*** Tafsiran ini memuat materi yang berasal dari sumber-sumber klasik dalam domain publik. Sebagian materi telah diproses, diringkas, atau diterjemahkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kami menyarankan Anda untuk membandingkan setiap penjelasan dengan teks Alkitab dan konteks lengkapnya. Jika menemukan kesalahan atau terjemahan yang perlu diperbaiki, silakan hubungi kami.
Amos 3:10 Referensi silang ayat
Jelajahi ayat-ayat terkait yang memiliki tema, pengajaran, atau konteks yang berhubungan dengan bagian ini. Referensi silang ini membantu Anda membandingkan ayat dan memahami pesan Alkitab dengan lebih mendalam. Pilih salah satu gambar untuk membaca ayat terkait, penjelasan, dan tafsiran Alkitabnya.

Yeremia 4:22 (IDN) »
Bagaimana bodoh umat-Ku itu, bahwa tiada diketahuinya akan Daku? mereka itulah anak-anak gila yang tiada berakal; pandai mereka itu pada berbuat jahat, tetapi tiada mereka itu tahu berbuat baik.

Zefanya 1:9 (IDN) »
Dan pada hari itu juga Aku akan membalas kepada segala orang yang melompat ambang, dan yang memenuhi rumah tuannya dengan gagah dan tipu.

Mazmur 14:4 (IDN) »
Tiadakah berpengetahuan segala orang yang berbuat jahat, yang makan habis akan umat-Ku seperti dimakannya roti? Tiada mereka itu meminta doa kepada Tuhan.
Makna Langsung Amos 3:10
Firman orang Israel pun mengapa bangsa itu berbuat sesuatu yang bengkok; karena mereka tidak mengenal jalan benar dan menindas sesama. Allah menegaskan bahwa para pelaku menimbun harta di rumah-rumah mewah dengan cara yang curang, menindas yang lemah, dan mengangkat diri melalui perampasan. Ayat ini menyoroti konsekuensi dari prilaku yang tidak adil dan menumpuk kekayaan melalui penindasan.
Latar belakang konteks
Amos hidup di masa menuju kehancuran Kerajaan Utara Israel. Pesannya tegas menantang ketidakadilan sosial dan kemunafikan ibadah yang kosong. Pada zaman itu, kemakmuran material sering dipertukarkan dengan korupsi: rumah besar dibangun dengan menipu tetangga, pajak yang tidak adil, dan perampasan hak orang lain. Ayat ini menegaskan bahwa kemewahan lahir dari praktik yang bertentangan dengan keadilan Allah.
Tanda-tanda interpretatif
Gagasan inti dalam pandangan tafsiran terdahulu
Para penafsir publik domain klasik menekankan bahwa hukum keadilan sosial tidak dapat dipisahkan dari pemahaman iman kepada Allah. Mereka menyorot bahwa pemborosan rumah-rumah mewah yang dibangun di atas penindasan mengundang murka Tuhan. Beberapa rujukan tradisional membantu menekankan bahwa Allah memperhatikan bagaimana harta dipakai: untuk pemenuhannya sendiri atau untuk memulihkan yang tersakiti di antara sesama.
Cuplikan singkat yang relevan (tanpa mengutip teks secara panjang): tafsiran menegaskan bahwa Allah menghendaki keseimbangan antara ibadah dan tindakan yang benar terhadap sesama.
Cross-references yang relevan
Renungan praktis yang moderat
Ayat ini mengingatkan pembaca bahwa kekayaan tidak otomatis menandakan kebenaran. Jika kekayaan diperoleh dengan menipu, maka Allah tidak tinggal diam. Orang percaya diajak menguji cara memperoleh, mengakhir penindasan, dan memperhatikan keadilan bagi sesama—khususnya bagi yang tertindas. Ibadah yang sejati memancar melalui sikap adil dalam pekerjaan sehari-hari dan kepedulian terhadap kesejahteraan sesama.
Rangkuman pesan
Amos 3:10 menegaskan bahwa tindakan menggumpulkan harta secara curang dan menindas sesama bertentangan dengan kehendak Allah. Allah menuntut keadilan sosial sebagai bagian integral dari hidup beriman. Keadilan bukan sekadar hukum, tetapi cara hidup yang mencerminkan kasih Tuhan kepada semua orang, terutama yang rentan.
Catatan editorial
Quotations from Matthew Henry, Albert Barnes, and Adam Clarke may appear in brief form for contextual resonance. The following exact short phrases from these commentators, if present in the source material, are kept minimal and incidental to the Indonesian summary.