Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia Maleakhi2 Petrus 1:19 Tafsiran ayat Alkitab
2 Petrus 1:19 Penjelasan dan tafsiran ayat Alkitab
Maka ada pula kepada kita perkataan yang dinubuatkan menjadi lebih teguh, maka baik kamu perhatikan dia, seperti akan pelita yang bercahaya di dalam suatu tempat yang gelap, sehingga hari siang, dan bintang timur terbit bercahaya di dalam hatimu.
2 Petrus 1:19 Tafsiran ayat Alkitab
*** Tafsiran ini memuat materi yang berasal dari sumber-sumber klasik dalam domain publik. Sebagian materi telah diproses, diringkas, atau diterjemahkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kami menyarankan Anda untuk membandingkan setiap penjelasan dengan teks Alkitab dan konteks lengkapnya. Jika menemukan kesalahan atau terjemahan yang perlu diperbaiki, silakan hubungi kami.
2 Petrus 1:19 Referensi silang ayat
Jelajahi ayat-ayat terkait yang memiliki tema, pengajaran, atau konteks yang berhubungan dengan bagian ini. Referensi silang ini membantu Anda membandingkan ayat dan memahami pesan Alkitab dengan lebih mendalam. Pilih salah satu gambar untuk membaca ayat terkait, penjelasan, dan tafsiran Alkitabnya.

Mazmur 119:105 (IDN) »
Bahwa firman-Mu itu seolah-olah pelita bagi kakiku dan seperti suluh pada jalanku.

Wahyu 22:16 (IDN) »
"Aku ini Yesus sudah menyuruhkan malaekat-Ku hendak menyaksikan segala perkara ini kepadamu bagi segala sidang jemaat, Akulah Akar dan Benih Daud, dan Bintang fajar yang gilang-gemilang itu."

Yesaya 9:2 (IDN) »
(9-1) Adapun orang yang duduk di dalam gelap itu akan melihat suatu terang yang besar, dan bagi segala orang yang duduk di tanah yang dinaungi oleh kematian itu akan terbit suatu terang atasnya.
2 Petrus 1:19 (IDN) - Tafsiran ringkas
Pada konteks parlemen Petrus, ia menekankan bahwa pengikut Kristus telah dipanggil untuk membangun iman mereka melalui kebenaran yang telah mereka dengar dan saksikan. Ayat ini menegaskan bahwa firman nubuat—yang diwariskan melalui para nabi dan disahkan oleh rasul-rasul—tetap menjadi cahaya yang membimbing dalam kegelapan dunia hingga kedatangan hari terang Tuhan. Ayat ini mengundang pembaca untuk memperhatikan nubuat dengan serius sebagai pedoman hidup yang teguh, bukan sekadar opini manusia.
Makna inti
Ayat ini menegaskan dua hal utama: (1) firman nubuat adalah sumber cahaya bagi orang percaya; (2) kita perlu “memperhatikannya” dengan perhatian aktif, karena dunia ini tetap gelap hingga hari penyempurnaan tiba. Nubuat itu meneguhkan iman kita dan membimbing langkah-langkah kita menuju kebenaran Kristus.
Tema utama
Ayat silang terkait
Beberapa rangkaian ayat yang menguatkan tema ini adalah: Mazmur 119:105 tentang firman Allah sebagai pelita bagi langkah kita, Ibrani 6:19 yang menggambarkan harapan sebagai jangkar roh, dan Why 21:23 yang menyinggung terang kekal dalam kota suci. Ringkasannya: firman Allah menuntun, memberi keamanan, dan memupuk pengharapan hingga kedatangan Kristus.
Refleksi praktis
Garis besar nasihat praktisnya: bacalah Alkitab secara teratur, renungkan maknanya, dan biarkan nubuat Allah membentuk pola hidup. Ketika dunia memberikan berbagai pengaruh gelap, kita perlu membiarkan pelita firman menuntun keputusan harian, menjaga kita dari kebingungan dan menjaga fokus pada tujuan akhir dalam Kristus.
Ringkasan singkat
2 Petrus 1:19 menegaskan bahwa nubuat yang telah kita dengar adalah cahaya yang membimbing kita melalui kegelapan hingga hari terang Tuhan. Pembaca diajak berpegang pada firman itu dengan serius, sebab ia memberi arah, pengharapan, dan kestabilan iman sampai kedatangan Kristus.
Cross-references:
Catatan singkat dari rasul-rasul terdahulu (yang sering dikaitkan pada interpretasi klasik) menekankan bahwa nubuat mendapat validasi dari kejadian-peristiwa historis dan hidup manusia yang beriman. Dalam karya para penafsir publik domain seperti Matthew Henry, Albert Barnes, dan Adam Clarke, nuansa penekanan pada keandalan firman Allah dan aplikasi praktisnya tetap relevan untuk pembaca modern tanpa menyimpang dari konteks Alkitabiah.