Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiVerse
2 Korintus 1:1 2 Korintus 1:2 2 Korintus 1:3 2 Korintus 1:4 2 Korintus 1:5 2 Korintus 1:6 2 Korintus 1:7 2 Korintus 1:8 2 Korintus 1:9 2 Korintus 1:10 2 Korintus 1:11 2 Korintus 1:12 2 Korintus 1:13 2 Korintus 1:14 2 Korintus 1:15 2 Korintus 1:16 2 Korintus 1:17 2 Korintus 1:18 2 Korintus 1:19 2 Korintus 1:20 2 Korintus 1:21 2 Korintus 1:22 2 Korintus 1:23 2 Korintus 1:24



Inti inti tafsiran: Konsistensi janji dan kepercayaan di hadapan Godaan kebohongan diri
Pasangan konteks Paul dalam 2 Korintus 1:17 menantang keraguan tentang niatnya sendiri. Pertanyaan retoris ini menekankan bahwa ketika ia berencana, ia tidak melakukannya dengan tidak pasti atau seperti manusia yang sering menimbang dengan cara meragukan. Ia menegaskan bahwa niatnya tidak berubah antara “ya” dan “tidak” di hadapan Allah, melainkan didorong oleh keandalan firman Tuhan yang tidak berubah. Ayat ini menyoroti pentingnya integritas dalam pernyataan dan tindakan jemaat, serta ketaatan pada kehendak Allah, bukan pada strategi manusia untuk membungkus rencana dengan kepastian semu.
Dalam konteks surat kedua Korintus, Paulus membahas keandalan Allah dan kesehatian antara pengingatan manusia dan kepastian ilahi. Ia menegaskan bahwa rencananya tidak bersifat ambigu atau berubah-ubah. Beberapa penafsir menyoroti bahwa kata-kata seperti “ya” dan “tidak” mengacu pada cara Paulus merencanakan kunjungan maupun pengurusan surat, agar jemaat tidak menilai bahwa ia bertindak berdasarkan dorongan luar atau pertimbangan duniawi. Ayat ini berfungsi sebagai pernyataan integritas, menegaskan bahwa kepastian ilahi lebih dominan daripada permainan retorika manusia.
Beberapa referensi terkait yang relevan:
Penjelasan singkat: Yakobus menegaskan pentingnya iman yang tidak ganda; di dalam konteks ini, Paulus menegaskan bahwa rencana rohaninya tidak bergantung pada kepandaian manusia, melainkan pada kesetiaan Allah. Ibrani mengingatkan bahwa Kristus tidak berubah, memberi dasar bagi kepercayaan bahwa Tuhan adalah sumber kepastian. 1 Korintus menekankan sikap hati yang tetap fokus pada kehendak Allah tanpa campur tangan keraguan manusia.
Ayat ini menegaskan bahwa keandalan kita tidak berada pada tipu daya kebiasaan manusia, melainkan pada kebenaran ilahi yang tidak berubah. Dalam menjalani tugas pelayanan dan kehidupan beriman, kita dipanggil untuk menilai niat dengan hati yang tulus di hadapan Allah, memastikan bahwa “iya” kita adalah ya bagi kehendak-Nya dan “tidak” kita tidak menjadi permainan retorika.
Adam Clarke: “To be as good as one’s word, and not to break promises, is the mark of a faithful minister.”
Albert Barnes: “The consistency here is not in the forms of speech but in the integrity of the purpose.”
Matthew Henry: “Not to weave the colors of craft and cunning into the gospel, but to speak plainly and faithfully.”
Catatan silang: Perhatikan bagaimana pernyataan Paulus menguatkan kepercayaan jemaat terhadap kredibilitas rohani dan kasih karunia Allah, mengarahkan pembaca kepada iman yang teguh di tengah dinamika kebijakan manusia.