Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiNehemia 2:6 Tafsiran ayat Alkitab
Nehemia 2:6 Penjelasan dan tafsiran ayat Alkitab
Maka titah baginda kepadaku, sementara permaisuri adalah bersemayam pada sisi baginda: Berapa lama kiranya perjalananmu itu dan bilamana engkau akan kembali? Maka ridlalah baginda menyuruhkan daku, setelah sudah kutentukan harinya.
Nehemia 2:6 Tafsiran ayat Alkitab
*** Tafsiran ini memuat materi yang berasal dari sumber-sumber klasik dalam domain publik. Sebagian materi telah diproses, diringkas, atau diterjemahkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kami menyarankan Anda untuk membandingkan setiap penjelasan dengan teks Alkitab dan konteks lengkapnya. Jika menemukan kesalahan atau terjemahan yang perlu diperbaiki, silakan hubungi kami.
Nehemia 2:6 Referensi silang ayat
Jelajahi ayat-ayat terkait yang memiliki tema, pengajaran, atau konteks yang berhubungan dengan bagian ini. Referensi silang ini membantu Anda membandingkan ayat dan memahami pesan Alkitab dengan lebih mendalam. Pilih salah satu gambar untuk membaca ayat terkait, penjelasan, dan tafsiran Alkitabnya.

Nehemia 13:6 (IDN) »
Tetapi dalam antara sekalian ini tiada aku di Yeruzalem, karena pada tahun yang ketiga puluh dua dari pada kerajaan Artahsasta atas Babil datanglah aku kembali menghadap baginda, tetapi selang beberapa hari bermohonlah aku pula kepada baginda.

Nehemia 5:14 (IDN) »
Maka dari pada hari aku dititahkan menjadi penghulu mereka itu di negeri Yehuda, yaitu dari pada tahun yang kedua puluh, sampai kepada tahun yang ketiga puluh dua dari pada kerajaan Artahsasta, dua belas tahun lamanya, tiada tahu aku makan belanja penghulu, dan segala saudarakupun tidak.

Nehemia 2:4 (IDN) »
Maka titah baginda kepadaku: Apakah sekarang pintamu kepadaku? Maka pada ketika itu aku meminta doa kepada Allah yang di sorga!
Nehemia 2:6 (IDN)
Setting segera setelah Nehemia menghadap raja Artahsasta yang berkuasa di Persia. Nehemia telah meminta izin untuk kembali ke Yerusalem dan membangun tembok kota. Ayat ini mencatat respons sang raja yang berisi konfirmasi dan kehendak untuk mendukung misi tersebut.
Inti teks dan makna iman
Nahum ini menegaskan bahwa Allah bekerja melalui raja-raja dan otoritas dunia untuk melaksanakan rencana-Nya. Nehemia tidak bertindak dengan semata-mata inisiatif manusia, melainkan membawa permohonan yang berakar pada iman bahwa Tuhan memimpin langkah-langkah umat-Nya. Ketika raja menanyakan kapan perjalanan itu akan dimulai dan kapan kembali, Nehemia menerima jawaban yang menegaskan perlunya persiapan dan kehendak Allah atas waktu-waktu karena tujuan-Nya untuk Yerusalem.
Penjelasan kata dan gambaran penting
Kait Alkitabiah dengan Allah dan iman
Ayat ini menyoroti tema penyertaan Tuhan atas kerja manusia yang setia. Dalam situasi genting, doxa Allah menjadi landasan kendaraan tindakan manusia. Sehubungan dengan doa dan pengambilan keputusan, Allah membimbing dalam hal-hal yang tampaknya bersifat administratif, namun memiliki dampak rohani yang besar bagi umat-Nya.
Rujukan silang terkait
Beberapa teks yang relevan membantu membentuk gambaran keseluruhan:
Aplikasi bagi masa kini
Ketika menghadapi tugas besar yang membutuhkan dukungan otoritas manusia, kita dapat:
Catatan editorial
Dalam pandangan para komentator gereja terdahulu, seperti Matthew Henry, Albert Barnes, dan Adam Clarke, ayat ini dipahami sebagai contoh bagaimana kekuasaan dunia turut dipakai oleh Tuhan dalam tujuan-Nya bagi umat-Nya. Pembaca dikenang untuk melihat bagaimana persetujuan manusia dan rencana ilahi saling melengkapi dalam karya keselamatan Allah.
Beberapa kutipan singkat dari sumber berbahasa Inggris publik-domain (jika relevan) antara lain menekankan bahwa Allah memakai kebijaksanaan pemerintahan dunia untuk menyokong rencana-Nya, dan bahwa umat percaya harus menaruh kepercayaan pada waktu Tuhan menggenapi tujuan-Nya. Kutipan terlampir tidak dimaksudkan sebagai teks panjang, melainkan sebagai rujukan pemikiran para komentator klasik yang membantu memahami konteks ayat ini.