Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiVerse
Matius 6:1 Matius 6:2 Matius 6:3 Matius 6:4 Matius 6:5 Matius 6:6 Matius 6:7 Matius 6:8 Matius 6:9 Matius 6:10 Matius 6:11 Matius 6:12 Matius 6:13 Matius 6:14 Matius 6:15 Matius 6:16 Matius 6:17 Matius 6:18 Matius 6:19 Matius 6:20 Matius 6:21 Matius 6:22 Matius 6:23 Matius 6:24 Matius 6:25 Matius 6:26 Matius 6:27 Matius 6:28 Matius 6:29 Matius 6:30 Matius 6:31 Matius 6:32 Matius 6:33 Matius 6:34



Matius 6:24 — Pengakuan yang Tak Terpaut Ganda
Ayat ini terletak dalam bagian khotbah di bukit yang menekankan bagaimana hidup Allah dan tebusan-Nya mempengaruhi sikap kita terhadap harta (Mammon). Yesus menegaskan bahwa tidak ada manusia yang bisa menjadi hamba dari dua tuan sekaligus. Pilihan hati yang terbagi akan menimbulkan benturan kepentingan: satu pihak menuntut pengabdian penuh, pihak lain menggerogoti ketenangan jiwa.
Keterkaitan dengan Allah dan iman
Ajaran ini menyatakan bahwa semesta manusia diarahkan oleh nilai-nilai ketaatan. Allah menuntut loyalitas total, sementara Mammon (harta kekayaan) memiliki kecenderungan memposisikan diri sebagai tuan yang menuntut kepatuhan dan percaya diri pada keamanan materi. Frasa ini menegaskan bahwa kasih kepada Allah tidak bisa disamakan dengan kasih kepada kekayaan. Dalam konteks iman, ketaatan tidak bisa parsial; pengikut Kristus diajak memilih arah hidup yang mencerminkan prioritas ilahi di atas kekayaan dunia.
Penjelasan kata dan gambaran kunci
“Tiada dapat seorang jua pun bertuankan dua orang” menekankan eksklusivitas pengabdian. “Mammon” merujuk pada kekayaan materi sebagai sistem nilai alternatif. Ayat ini menggunakan gambaran hubungan hamba dan tuan: seseorang akan mencintai atau membenci tergantung siapa yang menjadi tuannya, dan hal itu akan mempengaruhi tindakan. Dalam terjemahan IDN, penekanan pada pilihan “Allah” versus “Mammon” menekankan konflik prioritas antara iman dan kepemilikan dunia.
Rujukan silang yang relevan
Refleksi bagi kehidupan sehari-hari
Di era modern, godaan untuk menomorsatukan materi sering muncul melalui tekanan karier, standar hidup, atau kepemilikan digital. Ayat ini mengajak pembaca untuk menilai prioritas: apakah keamanan batin kita bergantung pada akumulasi harta atau kehadiran Allah dalam setiap aspek hidup? Ketika hati kita condong kepada Allah, tindakan kita—cara kita bekerja, berkeluarga, dan melayani sesama—akan mencerminkan pengabdian yang tidak bercabang.
Inti pesan dan hasil penerapan
Inti pesan ayat ini adalah ajakan untuk loyalitas yang tidak terbagi. Tuhan mengundang kita untuk mempersembahkan hidup secara utuh kepada-Nya, bukan mengukur nilai diri lewat kenyamanan materi. Penerapan praktisnya meliputi mengelola harta dengan integritas, menempatkan kebutuhan sesama di tempat yang wajar, dan memusatkan harapan pada Allah sebagai sumber keamanan batin.
Quotations from classical commentators (ringkas):
“Tidak dapat seorang jua pun bertuankan dua orang; karena tak dapat tiada seorang dibenci dan seorang dikasihinya kelak.” — ungkapan serupa dalam beberapa versi lama menggaris-bawahi eksklusivitas pengabdian yang dituntut Allah.
Catatan singkat: Penekanan pada pilihan satu tuan ini selaras dengan pola dalam kitab-kitab Perjanjian Baru tentang pengabdian total kepada Kristus dan bahaya ketergantungan berlapis pada kekayaan dunia.
Bagian pendekkan tema coret: Menempatkan Allah sebagai satu-satunya tuan mengarah pada hidup yang bebas dari kekhawatiran berlebihan tentang harta, sambil tetap bertanggung jawab dalam mengelola berkat yang diberikan-Nya.