Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiVerse
Lukas 13:1 Lukas 13:2 Lukas 13:3 Lukas 13:4 Lukas 13:5 Lukas 13:6 Lukas 13:7 Lukas 13:8 Lukas 13:9 Lukas 13:10 Lukas 13:11 Lukas 13:12 Lukas 13:13 Lukas 13:14 Lukas 13:15 Lukas 13:16 Lukas 13:17 Lukas 13:18 Lukas 13:19 Lukas 13:20 Lukas 13:21 Lukas 13:22 Lukas 13:23 Lukas 13:24 Lukas 13:25 Lukas 13:26 Lukas 13:27 Lukas 13:28 Lukas 13:29 Lukas 13:30 Lukas 13:31 Lukas 13:32 Lukas 13:33 Lukas 13:34 Lukas 13:35



Lintasan konteks dan makna Lukas 13:14
Pelayatan kisah ini berlangsung dalam rangkalingkas konflik antara kuasa pendulum hukum religius Pharisi maupun penghulu rumah ibadat dengan karya penyembuhan Yesus pada hari Sabbat. Matius 12:9-14 dan Markus 3:1-6 memuat tema serupa: ketegangan antara peraturan hari Sabat dengan belas kasihan Allah yang bekerja di tengah manusia. Di Lukas 13:14, penghulu rumah ibadat murka karena Yesus telah menyembuhkan seseorang pada hari Sabat, bukan karena kekhawatiran hukum sabat itu sendiri, melainkan karena merasa terancam oleh otoritas-Nya yang menantang tradisi.
Apa yang dinyatakan teks ini tentang Allah dan iman
Teks ini menyoroti bahwa belas kasihan Allah lebih utama daripada ritual kosong. Allah menyatakan bahwa keselamatan dan pemulihan manusia adalah pekerjaan-Nya yang menantang kemunafikan hukum manusia ketika hukum itu disalahgunakan untuk menahan belas kasihan. Imannya tidak terletak pada kepatuhan mekanis terhadap aturan, melainkan pada kasih Allah yang bekerja untuk memulihkan tubuh dan roh manusia yang lemah.
Istilah dan gambaran penting
Cross-references yang relevan
Aplikasi bagi zaman kini
Pembacaan hari ini diteguhkan untuk tidak menyelewengkan maksud hari Tuhan menjadi alat penundaan belas kasihan. Jika ada kebutuhan fisik, emosional, atau spiritual, kasih karunia Allahlah yang menjadi standar tindakan kita. Gereja dipanggil menilai hukum-hukum manusia dengan kaca pembesar kasih—berani memulihkan, bukan menghakimi, ketika seseorang berada dalam kekhususan masa-masa sulit.
Inti pesan dan rangkuman
Yesus memilih bekerja pada hari Sabbat untuk menunjukkan bahwa kasih Allah melampaui batas-batas ritual. Penolakan penghulu rumah ibadat terhadap pemulihan mata orang lain menyingkap kecenderungan manusia mematok hukum pada seperti dinding bukan jembatan bagi belas kasihan. Imannya tumbuh ketika menerima karya Allah yang memulihkan, tanpa memandang masa atau tempat kejadian.