Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiChapter
Yesaya 1 Yesaya 2 Yesaya 3 Yesaya 4 Yesaya 5 Yesaya 6 Yesaya 7 Yesaya 8 Yesaya 9 Yesaya 10 Yesaya 11 Yesaya 12 Yesaya 13 Yesaya 14 Yesaya 15 Yesaya 16 Yesaya 17 Yesaya 18 Yesaya 19 Yesaya 20 Yesaya 21 Yesaya 22 Yesaya 23 Yesaya 24 Yesaya 25 Yesaya 26 Yesaya 27 Yesaya 28 Yesaya 29 Yesaya 30 Yesaya 31 Yesaya 32 Yesaya 33 Yesaya 34 Yesaya 35 Yesaya 36 Yesaya 37 Yesaya 38 Yesaya 39 Yesaya 40 Yesaya 41 Yesaya 42 Yesaya 43 Yesaya 44 Yesaya 45 Yesaya 46 Yesaya 47 Yesaya 48 Yesaya 49 Yesaya 50 Yesaya 51 Yesaya 52 Yesaya 53 Yesaya 54 Yesaya 55 Yesaya 56 Yesaya 57 Yesaya 58 Yesaya 59 Yesaya 60 Yesaya 61 Yesaya 62 Yesaya 63 Yesaya 64 Yesaya 65 Yesaya 66



Inti Interpretasi Utama
Yesaya 32:12 menantang pembaca untuk mempertanyakan kondisi hati ketika kemakmuran materi berlimpah, dan menunjukkan bahaya terlalu bersandar pada kemewahan jagat kebun anggur yang subur. Ayat ini mengandung seruan teologis untuk menjaga diri terhadap ketidakpedulian rohani di tengah kenyamanan duniawi, agar kemuliaan Tuhan tidak tergantikan oleh kepuasan seenaknya sendiri.
konteks sastra dan alur bacaan
Bagian ini berada dalam nabi Yesaya yang menyoroti perbedaan antara masa-masa penyataan rencana Allah terhadap umat-Nya dan kecenderungan manusia menyia-nyiakan kesempatan berbalik kepada Tuhan di tengah kemapanan. Frasa tentang “dada yang bertebah-tebah” menggambarkan sikap rendah hati dan penyesalan, bukan kebanggaan.
Isu teologis utama
rambu-rambu cross-reference
Beberapa bagian Alkitab memberi konteks serupa:
Penjelasan singkat: Ketiga bagian ini menegaskan bahwa kemakmuran materi tidak menggantikan kebutuhan rohani akan ketaatan kepada Tuhan, dan kita dipanggil untuk menilai niat serta bertindak dalam ketaatan seberkas hidup.
pertanyaan reflektif
ringkasannya
Ayat ini mengingatkan bahwa kemakmuran di bumi dapat mengundang kelengahan rohani jika tidak disertai pengakuan akan ketergantungan pada Tuhan. Dada yang bertebah-tebah menandai sikap hati yang menundukkan diri, tidak sekadar meratapi kehilangan kemewahan atau menghindar dari kenyamanan. Implikasi praktisnya adalah hidup dalam kesetiaan kepada Tuhan sambil menikmati berkat-Nya dengan syukur dan tanggung jawab.
kutipan singkat dari tokoh teolog terdahulu
Matthew Henry menekankan bahwa kemakmuran sering menguji iman; Barnes dan Clarke menyoroti kebutuhan hati yang benar di balik kemewahan duniawi. Cuplikan berikut mencerminkan pola umum komentar klasik: kebanyakan berkat duniawi menuntut hati yang rendah; tanpa itu, berkat menjadi penghalang rohani. (Catatan: kutipan langsung lengkap tidak tersedia di teks ini; prinsip-prinsip umum tercermin dalam pandangan para komentator PKD publik domain.)