Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiChapter
Kejadian 1 Kejadian 2 Kejadian 3 Kejadian 4 Kejadian 5 Kejadian 6 Kejadian 7 Kejadian 8 Kejadian 9 Kejadian 10 Kejadian 11 Kejadian 12 Kejadian 13 Kejadian 14 Kejadian 15 Kejadian 16 Kejadian 17 Kejadian 18 Kejadian 19 Kejadian 20 Kejadian 21 Kejadian 22 Kejadian 23 Kejadian 24 Kejadian 25 Kejadian 26 Kejadian 27 Kejadian 28 Kejadian 29 Kejadian 30 Kejadian 31 Kejadian 32 Kejadian 33 Kejadian 34 Kejadian 35 Kejadian 36 Kejadian 37 Kejadian 38 Kejadian 39 Kejadian 40 Kejadian 41 Kejadian 42 Kejadian 43 Kejadian 44 Kejadian 45 Kejadian 46 Kejadian 47 Kejadian 48 Kejadian 49 Kejadian 50Verse
Kejadian 30:1 Kejadian 30:2 Kejadian 30:3 Kejadian 30:4 Kejadian 30:5 Kejadian 30:6 Kejadian 30:7 Kejadian 30:8 Kejadian 30:9 Kejadian 30:10 Kejadian 30:11 Kejadian 30:12 Kejadian 30:13 Kejadian 30:14 Kejadian 30:15 Kejadian 30:16 Kejadian 30:17 Kejadian 30:18 Kejadian 30:19 Kejadian 30:20 Kejadian 30:21 Kejadian 30:22 Kejadian 30:23 Kejadian 30:24 Kejadian 30:25 Kejadian 30:26 Kejadian 30:27 Kejadian 30:28 Kejadian 30:29 Kejadian 30:30 Kejadian 30:31 Kejadian 30:32 Kejadian 30:33 Kejadian 30:34 Kejadian 30:35 Kejadian 30:36 Kejadian 30:37 Kejadian 30:38 Kejadian 30:39 Kejadian 30:40 Kejadian 30:41 Kejadian 30:42 Kejadian 30:43
Makna singkat Kejadian 30:38 (IDN)
Firman ini menjelaskan bagaimana Yakub mengatur kambing-kambingnya melalui strategi tertentu: ranting-ranting berwarna yang dibawa ke dalam kolam dan palung tempat minum, untuk menarik kambing menjangkau anak-anaknya yang berbilang warna saat mereka berbekak. Tujuan utama adalah membentuk pola pewarisan yang akan memunculkan kambing beranak sesuai dengan warna yang diinginkan Yakub, sebagai bagian dari upayanya untuk memperbesar kepemilikan ternaknya melalui perpecahan genetik yang dianggapnya menguntungkan.
Latar konteks singkat
Kejadian 30 mencatat persaingan antar anak Yakub yang berusaha mendapatkan berkat leluhur melalui cara-cara praktis. Yakub bekerja untuk Laban selama bertahun-tahun dan mengalami peluang untuk mengatur hasil ternak sebagai bagian dari pembagiannya. Dalam bagian ini, Yakub menggunakan “ranting-ranting” yang diletakkan di palung air sebagai alat untuk mempengaruhi formasi anak kambing, sesuai keyakinan budaya kuno mengenai bagaimana warna anak kambing dipengaruhi oleh kulit pohon yang tampak di sumber minuman mereka.
Observasi tafsir utama
Analisis ubah-ubah warna anak kambing tidak selalu diperdebatkan sebagai tindakan ilmiah; tetapi bagian ini menyoroti tema kepercayaan manusia terhadap hukum sebab akibat dan bagaimana Yakub mencoba mengatur keadaan untuk keuntungan keluarga. Hal ini juga memperlihatkan dinamika hubungan Yakub-Laban, serta bagaimana keinginan manusia dapat mendorong tindakan yang tidak sepenuhnya patuh pada rencana ilahi pada saat itu.
Gagasan tematik singkat
Rujukan silang yang relevan
Beberapa bagian dalam Kitab Kejadian memberi konteks tentang bagaimana Tuhan mengarahkan jalannya keturunan meskipun manusia bercampur dengan strategi manusia:
Penafsir singkat
Para penafsir seperti Matthew Henry, Albert Barnes, dan Adam Clarke memberi gambaran bahwa tindakan Yakub, meskipun didorong oleh ambisi pribadi, dilihat dalam perspektif rencana Allah yang lebih besar. Mereka menekankan bahwa Tuhan bisa bekerja melalui manusia dengan niat yang campur aduk, dan bahwa umat percaya diajak untuk melihat bahwa rencana-Nya tetap menjadi pusat meskipun manusia memilih jalan yang berbeda. Dalam konteks ini, fokus tidak semata pada teknik Yakub, tetapi pada bagaimana Allah memegang kendali terhadap nasib umat-Nya dan memelihara keturunan yang akan menjadi bangsa terpilih.
Aku dapatkan pelajaran praktis
Penutup ringkas
Ayat ini menampilkan dinamika manusia dan kasih Allah yang tetap bekerja di balik upaya-upaya manusia. Ketika kita menghadapi dorongan untuk mencari hasil melalui jalan lain, kita diajak kembali kepada ketetapan Tuhan yang lebih tinggi: Dia berdaulat atas masa depan bangsa-Nya, dan rencana-Nya meliputi seluruh hidup umat-Nya dengan kasih-Nya yang setia.
Catatan singkat penafsir: “Sesungguhnya orang-orang yang percaya hendaknya tidak mengandalkan taktik duniawi untuk memperoleh berkat, tetapi menyerahkan diri pada rencana Tuhan yang lebih tinggi.”