Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiVerse
Pengkhotbah 5:1 Pengkhotbah 5:2 Pengkhotbah 5:3 Pengkhotbah 5:4 Pengkhotbah 5:5 Pengkhotbah 5:6 Pengkhotbah 5:7 Pengkhotbah 5:8 Pengkhotbah 5:9 Pengkhotbah 5:10 Pengkhotbah 5:11 Pengkhotbah 5:12 Pengkhotbah 5:13 Pengkhotbah 5:14 Pengkhotbah 5:15 Pengkhotbah 5:16 Pengkhotbah 5:17 Pengkhotbah 5:18 Pengkhotbah 5:19 Pengkhotbah 5:20



Pengkhotbah 5:14 (IDN) – Gambaran Kekayaan yang Hilang
Pengkhotbah mencatat kenyataan pahit bahwa kekayaan yang diperoleh dengan usaha manusia bisa hilang secara tiba-tiba karena perbuatan celaka. Ayat ini menyoroti kefanaan benda materi dan ketidakpastian hidup di bawah sunyi penopang manusia. Pemazmur dan nabi sering menunjukkan bahwa keberanian hati bukan pada kekayaan, melainkan pada hubungan dengan Allah yang hidup. Di sini Pengkhotbah mengajarkan kita untuk menimbang arti kekayaan dengan hikmat ilahi, agar tidak terjerat pada kesenangan sementara yang akhirnya membangkitkan rasa kehilangan dan ketidakamanan batin.
Iman dan hikmat Allah dalam teks
Ayat ini menegaskan bahwa kekayaan bisa hilang karena “perbuatan yang celaka”—artinya tanpa alasan jelas, melalui tindakan bodoh, malapetaka, atau ketidakadilan. Hidup manusia tetap berada di bawah kedaulatan Allah, yang tidak menjadikan kekayaan sebagai ukuran nilai manusia, melainkan sebagai sarana untuk mengabdi kepada-Nya. Keberadaan kekayaan hanyalah bagian dari realitas duniawi, bukan landasan keselamatan atau kebahagiaan sejati.
Kata kunci dan gambaran penting
Rujukan silang yang relevan
Penjelasan singkat cross-reference: Amsal mengingatkan kita bahwa kerja keras dan kekayaan bisa hadir tanpa jaminan, sehingga hikmat Tuhan perlu diutamakan. 1 Timotius menegaskan bahaya cinta uang, sementara Yohanes menekan keutamaan hidup yang sejati dalam firman Kristus, bukan gemerlap materi.
Terapannya untuk kehidupan sekarang
Ayat ini mendorong kita hidup dengan sikap sederhana terhadap harta: bersyukur atas berkat, berhemat, dan menghindari ketamakan. Ketika ancaman kehilangan datang, kita dipanggil untuk meneguhkan iman pada pemeliharaan Allah, bukan mengandalkan kekayaan sebagai sandaran utama. Berilah perhatian pada tujuan hidup yang lebih tinggi: memuliakan Allah dan melayani sesama dengan sumber daya yang Tuhan percayakan.
Ringkasan singkat
Kekayaan bisa hilang karena perbuatan celaka, sehingga tidak ada jaminan bagi hak milik manusia. Hikmat Pengkhotbah mengajak kita mengutamakan hubungan dengan Allah dan hidup bijaksana di tengah kefanaan dunia.
Quotations from public-domain commentators (tanpa menyalin teks lengkap):
“Kekayaan yang diperoleh dengan kerja keras dapat hilang tanpa diduga; yang kekal adalah hikmat yang datang dari takut akan Tuhan.” — para penafsir publik domain secara umum menekankan kefanaan kekayaan manusia dan keamanan rohani dalam hubungan kepada Allah.
Penekanan akhir: fokus hidup pada Allah, bukan pada kemewahan yang fana.