Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiVerse
Pengkhotbah 10:1 Pengkhotbah 10:2 Pengkhotbah 10:3 Pengkhotbah 10:4 Pengkhotbah 10:5 Pengkhotbah 10:6 Pengkhotbah 10:7 Pengkhotbah 10:8 Pengkhotbah 10:9 Pengkhotbah 10:10 Pengkhotbah 10:11 Pengkhotbah 10:12 Pengkhotbah 10:13 Pengkhotbah 10:14 Pengkhotbah 10:15 Pengkhotbah 10:16 Pengkhotbah 10:17 Pengkhotbah 10:18 Pengkhotbah 10:19 Pengkhotbah 10:20



Pengkhotbah 10:17 (IDN)
Pengkhotbah 10:17 menampilkan gambaran singkat tentang bagaimana keadaan sebuah negeri dipengaruhi oleh pemerintahan dan kesejahteraan rakyatnya. Ayat ini menyoroti bahwa kemakmuran dan kelancaran hidup tidak datang dari kekuasaan yang rendah hati atau dari kemewahan harta semata, melainkan dari bagaimana raja dan para pemimpin menjalankan kekuasaannya pada saatnya.
Setting segera ayat
Ayat ini berbicara tentang “negeri” yang berbahagia ketika rajanya berasal dari bangsawan yang sebenarnya—orang besar-besarnya makan-minum pada waktunya untuk mengenyangkan dirinya sendiri, bukan untuk memperluas kemewahan atau menindas rakyat. Nyaris seperti catatan singkat tentang tata kelola negara, di mana kebajikan pemimpin berdampak pada kesejahteraan umum.
Apa yang diperkatakan teks tentang Allah atau iman
Konteks Pengkhotbah menekankan hikmat hidup yang rendah hati serta penggunaan hak kekuasaan secara tepat. Ayat ini mengingatkan bahwa kebahagiaan sebuah negeri bukan karena pesta yang berlebihan, melainkan karena pemimpin yang bijaksana, adil, dan berpegang pada tindakan yang tepat pada saat yang tepat. Dalam iman Yahudi-Kristen, Allah menilai hati dan cara memerintah: pemimpin yang menghindari penyalahgunaan kekuasaan membawa stabilitas dan keadilan bagi rakyatnya.
Kata kunci dan gambaran penting
Hubungan dengan teks lain (cross-references)
Keterkaitan tematik bisa dilihat dengan ayat-ayat berikut:
Penelaahan kata dan makna penting
Ayat ini tidak menolak kemewahan atau pengelolaan yang layak, tetapi menekankan bahwa kesejahteraan publik bergantung pada kapan dan bagaimana pemimpin memanfaatkan kekuasaan. Eksposisi para penafsir klasik menekankan bahwa “makan minum pada ketikanya” mencerminkan penyelenggaraan kebutuhan sendiri secara wajar tanpa menindas rakyat. Pemahaman ini menuntun kita untuk menilai kepemimpinan bukan dari kemewahan semata, melainkan dari integritas dan keadilan.
Aplikasi bagi pembaca masa kini
Pemimpin perlu menjaga keadilan dan belas kasihan dalam kebijakan publik. Bagi warga komunitas iman, ajaran ini mengajak untuk menilai bagaimana tata kelola berkontribusi pada kesejahteraan bersama: transparansi, akuntabilitas, dan perhatian terhadap kebutuhan dasar. Dalam konteks gereja atau komunitas, prinsip ini menantang kita untuk mengutamakan integritas, menghindari pemborosan dengan mengarah pada manfaat bagi banyak orang, dan mengingat bahwa hikmat benar lebih berharga daripada kemewahan pribadi.
Ucapan para komentator (kutipan singkat)
Matthew Henry (ringkas): “Kebahagiaan suatu negeri bergantung pada keadilan dan sopan santun pemerintahan.”
Albert Barnes (ringkas): “Pemimpin yang memakan sendiri pada waktunya tanpa memperhatikan kebutuhan rakyat tidak membawa kesejahteraan.”
Adam Clarke (ringkas): “Keadilan yang terjaga dan penggunaan kekuasaan secara bijaksana adalah fondasi damai negeri.”