Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiVerse
Pengkhotbah 10:1 Pengkhotbah 10:2 Pengkhotbah 10:3 Pengkhotbah 10:4 Pengkhotbah 10:5 Pengkhotbah 10:6 Pengkhotbah 10:7 Pengkhotbah 10:8 Pengkhotbah 10:9 Pengkhotbah 10:10 Pengkhotbah 10:11 Pengkhotbah 10:12 Pengkhotbah 10:13 Pengkhotbah 10:14 Pengkhotbah 10:15 Pengkhotbah 10:16 Pengkhotbah 10:17 Pengkhotbah 10:18 Pengkhotbah 10:19 Pengkhotbah 10:20



Pengkhotbah 10:10 (IDN)
“Jikalau besi sudah tumpul, tiada lagi tajamnya, baiklah diasah akan dia, maka besarlah kuasanya kelak; demikianlah peri hikmat, istimewa pula ia akan membetulkan barang sesuatu.”
Pengaturan segera: konteks kitab dan ayat
Ayat ini berada dalam Pengkhotbah yang membahas realitas hidup di bawah matahari—kedagingan pekerjaan manusia, kelelahan, dan perlunya hikmat praktis untuk menghadapi keadaan sehari-hari. Di tengah gambaran bahwa pekerjaan manusia sering mengalami kemalangan dan kebingungan, Pengkhotbah menekankan nilai hikmat yang terampil dan terarah, seperti pedang yang dibuat tajam untuk membangun, membetulkan, dan menjaga keberlangsungan pekerjaan. Ayat ini memakai gambar besi yang tumpul sebagai ilustrasi kebutuhan untuk diasah agar memberi hasil yang maksimal.
Apa yang diungkapkan ayat ini tentang Tuhan dan iman
Ayat ini menegaskan bahwa hikmat adalah anugerah yang perlu dipelihara dan diasah. Dalam konteks iman, hikmat berasal dari Tuhan sebagai pemberi pencerahan praktis untuk hidup benar di dunia. Ketajaman hikmat menghasilkan tindakan yang tepat, adil, dan bertanggung jawab—sesuatu yang menyenangkan Tuhan karena menunjukkan hikmat-Nya yang bekerja dalam manusia yang taat.
Penjelasan kata dan gambaran penting
Hubungan dengan teks-teks terkait
Beberapa sumber kebijaksanaan alkitabiah menegaskan pola serupa:
Ringkasan penggenapan makna
Ayat ini menegaskan bahwa hikmat praktis perlu diasah dengan usaha dan pengalaman. Seperti besi yang diasah agar efektif kembali, begitu pula seseorang yang dibimbing oleh hikmat Tuhan akan mampu membetulkan keadaan sekitar dengan tepat—membangun, memperbaiki, dan mengarahkan tindakan secara bijaksana.
Aplikasi masa kini
Dalam pekerjaan maupun hubungan sehari-hari, kita diajak untuk tidak puas dengan kemampuan yang “tumpul”. Latih diri lewat belajar, refleksi, dan diskusi dengan orang yang bijaksana. Dalami konteks tugas, evaluasi kesalahan, dan perbaiki cara berpikir agar respons kita terhadap tantangan menjadi tepat sasaran. Hikmat yang terasah membantu kita menyeimbangkan kecepatan tindakan dengan kematangan moral, sehingga pekerjaan menjadi berkat bagi orang lain dan kemuliaan bagi Tuhan.
Cross-references (singkat)
1) Amsal 4:7 — Hikmat sebagai inti kebijaksanaan; menjadi dasar semua tindakan. (Penekanan: pentingnya mencari hikmat sebagai fondasi)
2) Amsal 27:17 — Interaksi membentuk kebijaksanaan melalui pembelajaran bersama. (Penekanan: komunitas pemb mentor sejalan dengan pengasahan hikmat)
3) Ayub 28:28 — Pengakuan bahwa Tuhan adalah sumber hikmat sejati. (Penekanan: akar iman menghadirkan praktik hikmat)
Catatan editorial
Quotasi singkat dari tokoh-tokoh teologi publik-domain yang relevan tidak disertakan panjang; bagian ini mengakui para komentator klasik sebagai rujukan umum. Inti ajaran tetap pada kebijaksanaan yang diasah melalui pengalaman dan hubungan dengan Allah.