Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiChapter
Ulangan 1 Ulangan 2 Ulangan 3 Ulangan 4 Ulangan 5 Ulangan 6 Ulangan 7 Ulangan 8 Ulangan 9 Ulangan 10 Ulangan 11 Ulangan 12 Ulangan 13 Ulangan 14 Ulangan 15 Ulangan 16 Ulangan 17 Ulangan 18 Ulangan 19 Ulangan 20 Ulangan 21 Ulangan 22 Ulangan 23 Ulangan 24 Ulangan 25 Ulangan 26 Ulangan 27 Ulangan 28 Ulangan 29 Ulangan 30 Ulangan 31 Ulangan 32 Ulangan 33 Ulangan 34



Ulangan 17:3 (IDN)
Setting seketika kitab Ulangan pasal ini adalah bagian instruksi hukum kepada bangsa Israel yang menempuh tanah Kanaan. Ayat ini muncul di bagian undang-undang tentang pelanggaran serius kemurtadan: penyembahan berhala yang dilakukan secara pribadi, bukan sekadar mengikuti adat. Ayat 3 menyingkap bahaya utama: syncretism—menggabungkan penyembahan kepada Tuhan Israel dengan dewa-dewa tetangga. Allah menegaskan bahwa tindakan seperti itu melanggar perjanjian-Nya dan mengundang kemurkaan-Nya.
Apa yang diajarkan teks ini tentang Allah dan iman
Ayat ini menegaskan eksklusivitas penyembahan kepada Tuhan: tidak ada kompromi. Allah menuntut kesetiaan penuh dan menolak penyembahan yang menyimpang, termasuk kepada matahari, bulan, atau tentara langit. Dalam bahasa kitab suci, tindakan itu adalah “berbuat bakti kepada dewa-dewa” dan “menyembah sujud” kepada mereka—kelekatan ritual yang menunjukkan kehilangan relasi dengan Allah yang berfirman dan berkuasa atas semua ciptaan.
Istilah kunci dan gambaran penting
Gambaran ini menunjukkan penyembahan terhadap fenomena langit yang lazim di budaya kuno tetapi dianggap pengungkapan ketiadaan kepercayaan pada Tuhan yang menuntun bangsa itu. Fokusnya bukan pada objek itu sendiri, melainkan pada pemberian tempat yang seharusnya hanya milik Tuhan.
Rujukan silang yang relevan
Hubungan dengan ayat-ayat ini menegaskan pola: Allah menuntut pemurnian ibadah dan menolak penyebaran praktik berhala yang membuat bangsa-Nya menjadi tiruan dari budaya sekitar.
Penerapan praktis untuk gereja dan iman masa kini
1) Kesetiaan eksklusif kepada Allah dalam segala aspek hidup, bukan hanya ritus ibadah.
2) Pengenalan tentang “dewa-dewa modern” yang bisa berupa kepercayaan budaya, materi, atau keinginan kuasa yang dapat mengambil tempat Tuhan dalam hidup kita.
3) Refleksi pribadi: kita perlu menilai apakah ada kecenderungan memadukan iman dengan nilai-nilai yang meredam ketergantungan penuh kepada Tuhan.
Interpretasi kunci dari ahli terdahulu (singkat)
Untuk konteks historis, para komentator berpendapat bahwa ayat ini menegaskan bahwa pelanggaran serius meliputi penyembahan terhadap dewa-dewa asing. Kutipan pendek dari para penafsir klasik menggarisbawahi fondasi moral: Allah menginginkan loyalitas penuh tanpa kompromi. (Ringkasan: Henry, Barnes, Clarke menekankan kejujuran iman dan bahaya sinkretisme.) Contoh pernyataan singkat yang relevan dari para penafor: “Allah menuntut seluruh hatimu; tidak ada bagian yang diberikan kepada hal lain.”
Catatan kutipan singkat dari penafsir klasik: Beberapa bagian makna yang umum diangkat: penyembahan berhala adalah pelanggaran perjanjian, menggerakkan umat menjauh dari relasi dengan Tuhan yang hidup. (Kutipan lengkap tidak disediakan di sini, hanya ringkasan para penafsir karena hak cipta tidak tersedia.