Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiChapter
Ulangan 1 Ulangan 2 Ulangan 3 Ulangan 4 Ulangan 5 Ulangan 6 Ulangan 7 Ulangan 8 Ulangan 9 Ulangan 10 Ulangan 11 Ulangan 12 Ulangan 13 Ulangan 14 Ulangan 15 Ulangan 16 Ulangan 17 Ulangan 18 Ulangan 19 Ulangan 20 Ulangan 21 Ulangan 22 Ulangan 23 Ulangan 24 Ulangan 25 Ulangan 26 Ulangan 27 Ulangan 28 Ulangan 29 Ulangan 30 Ulangan 31 Ulangan 32 Ulangan 33 Ulangan 34Verse
Ulangan 14:1 Ulangan 14:2 Ulangan 14:3 Ulangan 14:4 Ulangan 14:5 Ulangan 14:6 Ulangan 14:7 Ulangan 14:8 Ulangan 14:9 Ulangan 14:10 Ulangan 14:11 Ulangan 14:12 Ulangan 14:13 Ulangan 14:14 Ulangan 14:15 Ulangan 14:16 Ulangan 14:17 Ulangan 14:18 Ulangan 14:19 Ulangan 14:20 Ulangan 14:21 Ulangan 14:22 Ulangan 14:23 Ulangan 14:24 Ulangan 14:25 Ulangan 14:26 Ulangan 14:27 Ulangan 14:28 Ulangan 14:29



Ulangan 14:22 (IDN)
Farisi dan bangsa Israel diajak untuk menjaga disiplin persepuluhan sebagai praktik ibadah dan pengakuan atas penyertaan Tuhan. Ayat ini menekankan tindakan menyisihkan dari hasil panen setiap tahun untuk persembahan pertama kepada Tuhan, sebagai bentuk ketaatan, pengakuan bahwa tanah Tuhanlah sumber segala hasil, dan sebagai sarana memelihara pemeliharaan ilahi di tengah umat-Nya.
Setting segera ayat
Ulangan 14 berpusat pada hukum kerohanian dan peribadatan bangsa Israel. Ayat 22 menegaskan kewajiban mempersembahkan persembahan hasil tanah setiap tahun dari hasil panen, sebagai bagian dari kehidupan komunitas yang berkaitan dengan tanah yang dijanjikan Tuhan. Praktik ini mengingatkan umat bahwa segala berkat berasal dari Allah dan menuntut respons syukur serta pemeliharaan mulut kemah ibadah.
Yang dimaksud ayat ini tentang Allah dan iman
Persepuluhan menumbuhkan sikap percaya kepada Tuhan sebagai Penyedia utama. Ketaatan dalam memberi sepuluh dari hasil tanah bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan ekspresi iman bahwa Tuhan mengatur musim, pertumbuhan, dan berkat. Dengan mengambil bagian tetap dari hasil tanah, umat menegaskan relasi mereka dengan Tuhan: Tuhan memberi, umat memberi kembali dengan hati yang tulus.
Istilah kunci dan gambaran penting
Rujukan silang yang relevan
- Imamat 27:30-32: Menjelaskan hukum sepuluh persen dan bagaimana persembahan itu dianggap suci bagi Tuhan.
- 2 Korintus 9:6-7: Menekankan kemurahan hati dan strategi hati dalam memberi dengan sukacita, mengarah pada prinsip kasih daripada paksaan.
- Nehemia 10:35-37: Menjelaskan komitmen bangsa untuk memelihara persepuluhan dalam komunitas, bahkan untuk penyediaan pekerjaan rumah ibadah.
Aplikasi praktis bagi masa kini
Praktik sepuluh dalam konteks modern bisa dimaknai sebagai bagian dari pola hidup yang mengaku Tuhan sebagai Penyedia. Dalam konteks keluarga dan jemaat, persembahan rutin bukan sekadar kewajiban, melainkan cara menumbuhkan rasa syukur, kedermawanan, dan ketergantungan pada Allah. Pelayanan gereja, kebutuhan komunitas, dan pekerjaan misi sering didukung oleh dana persembahan yang lahir dari iman yang tulus. Pertahankan sikap hati yang riang dan rela, bukan karena beban, melainkan karena kepercayaan bahwa Allah memberkati mereka yang memberi dengan sukacita.
Inti teologis ayat ini: memberi adalah tindakan iman yang mengakui kedaulatan Tuhan atas semua berkat. Dengan demikian, persepuluhan menjadi bagian dari kehidupan beriman yang memupuk relasi personal dengan Tuhan dan membangun komunitas yang bergantung pada penyelenggaraan-Nya.