Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiChapter
Kisah Para Rasul 1 Kisah Para Rasul 2 Kisah Para Rasul 3 Kisah Para Rasul 4 Kisah Para Rasul 5 Kisah Para Rasul 6 Kisah Para Rasul 7 Kisah Para Rasul 8 Kisah Para Rasul 9 Kisah Para Rasul 10 Kisah Para Rasul 11 Kisah Para Rasul 12 Kisah Para Rasul 13 Kisah Para Rasul 14 Kisah Para Rasul 15 Kisah Para Rasul 16 Kisah Para Rasul 17 Kisah Para Rasul 18 Kisah Para Rasul 19 Kisah Para Rasul 20 Kisah Para Rasul 21 Kisah Para Rasul 22 Kisah Para Rasul 23 Kisah Para Rasul 24 Kisah Para Rasul 25 Kisah Para Rasul 26 Kisah Para Rasul 27 Kisah Para Rasul 28Verse
Kisah Para Rasul 6:1 Kisah Para Rasul 6:2 Kisah Para Rasul 6:3 Kisah Para Rasul 6:4 Kisah Para Rasul 6:5 Kisah Para Rasul 6:6 Kisah Para Rasul 6:7 Kisah Para Rasul 6:8 Kisah Para Rasul 6:9 Kisah Para Rasul 6:10 Kisah Para Rasul 6:11 Kisah Para Rasul 6:12 Kisah Para Rasul 6:13 Kisah Para Rasul 6:14 Kisah Para Rasul 6:15



Kisah Para Rasul 6:15 dalam Perspektif Indonesia (IDN)
Mengapa ayat ini penting? Ketika Stepanus dihadapkan pada pengadilan Majelis yang menuduhnya, ayat ini menyingkap sebuah momen kunci: meskipun ia terpojok oleh lidah para pemuka Yahudi, tampak di wajahnya suatu ketenangan dan kemuliaan surgawi. Wajah Stepanus digambarkan seperti wajah seorang malaikat. Gambaran ini menegaskan bahwa umat percaya, meski menghadapi ancaman atau dusta, dapat dipantulkan citra Allah melalui iman yang teguh dan kepatuhan kepada nasihat Yesus.
Konteks asli
Rangkaian Kisah para Rasul pasal 6–7 melukiskan pertumbuhan jemaat dan penyelesaian masalah internal di antara orang Yahudi dan Helenis. Ketika para rasul memilih tujuh di antara jemaat untuk membantu pelayanan makanan bagi widow-widow, langkah itu menegaskan fokus pelayanan kepada firman Allah (kis. 6:4). Stepanus adalah salah satu di antara mereka. Penempatan peran ini mempertontonkan keseimbangan antara pelayanan practical (pemeliharaan kebutuhan jemaat) dan keperluan rohani (pidato pembelaan iman). Dalam konteks persidangan, Stepanus dibawa ke hadapan Sanhedrin untuk dituduh menghujat hukum Musa. Ayat 15 menghadirkan kontras: di tengah tuduhan, ada kilau kemuliaan ilahi yang terlihat di wajahnya.
Pesan utama
Orang-orang menatap Stepanus, dan wajahnya tampak seperti wajah malaikat. Ini menegaskan beberapa tema pokok: pertama, bahwa kemuliaan Allah bisa terpancar melalui wajah orang percaya di saat penganiayaan atau tekanan berat. kedua, persepsi orang luar bisa berbeda dari kenyataan batin; meskipun Stepanus tampak tenang di luar, dia sebenarnya berada dalam dialog iman yang mendalam dengan Allah. Ketertiban rohani Stepanus—keteguhan iman, pengakuan dosa, dan doa—memampukan dia menghadapi ancaman tanpa jatuh ke dalam kekerasan atau dusta. Ayat ini menyoroti bahwa ilahi hadir secara nyata bagi umat yang percaya, meskipun dunia menolak kebenaran-Nya.
Tema teologis yang terkait
Cross-references (ikut serta makna yang serupa)
Perhatikan hubungan dengan ayat-ayat berikut:
Refleksi devosi singkat
Ketika menghadapi tuduhan atau tekanan, kita tidak perlu kehilangan tenang. Allah yang berkuasa memampukan kita untuk tetap berkenan di hadirat-Nya. Seperti Stepanus, marilah kita memohon agar kemuliaan Allah tampak melalui hidup kita—bukan untuk dipuji manusia, melainkan untuk memuliakan nama-Nya. Dalam momen pengadilan manusia, biarkan firman dan doa menenangkan hati, sambil tetap memegang iman kepada Kristus.
Gagasan ringkas
Ayat ini menegaskan: kemuliaan Allah bisa terlihat pada wajah orang percaya yang tetap tegar dalam iman saat menghadapi tekanan. Ini menegaskan kebenaran bahwa Allah hadir secara nyata bagi umat-Nya, meski dunia menilai menurut ukuran manusia.
Quote singkat (yang relevan dari tokoh tokoh kebiasaan kuno, bila ada): Matthew Henry menekankan bahwa ujian iman sering menampilkan kemuliaan ilahi melalui ketetapan hati orang percaya. Albert Barnes menyoroti bahwa ketenangan Stepanus mengilustrasikan kehadiran Roh Kudus yang memampukan umat Allah berdiri di hadapan pengadilan dunia. Adam Clarke menafsirkan bahwa seperti muka malaikat mencerminkan damai Allah, demikian juga hati Stepanus memancarkan kesetiaan kepada Kristus.