Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiVerse
2 Petrus 2:1 2 Petrus 2:2 2 Petrus 2:3 2 Petrus 2:4 2 Petrus 2:5 2 Petrus 2:6 2 Petrus 2:7 2 Petrus 2:8 2 Petrus 2:9 2 Petrus 2:10 2 Petrus 2:11 2 Petrus 2:12 2 Petrus 2:13 2 Petrus 2:14 2 Petrus 2:15 2 Petrus 2:16 2 Petrus 2:17 2 Petrus 2:18 2 Petrus 2:19 2 Petrus 2:20 2 Petrus 2:21 2 Petrus 2:22



Makna Singkat (Inti Ayat)
Kedua Petrus 2:15 menggambarkan mereka yang meninggalkan jalan kebenaran dan terjerat pada jalan yang menyesatkan, meneladani Bileam yang suka menerima upah untuk perbuatan salah. Ayat ini menegaskan bahaya godaan materi dan kecenderungan hati manusia untuk memberontak terhadap firman Allah.
Latar Belakang Kontekstual
Surat 2 Petrus menyoroti bahaya nabi-nabi palsu dan pengajar sesat di tengah jemaat awal. Ayat ini merujuk pada Bileam, figur dalam kitab Ulangan dan Bilangan, yang dikenal karena niatnya yang serba salah: ia ingin memperoleh upah, tetapi tindakannya menghalalkan perbuatan salah demi memenuhi tuntutan materi. Penggunaan contoh Bileam menekankan bahwa penyimpangan spiritual sering diawali oleh hasrat duniawi yang menggeser retorika iman menjadi keuntungan pribadi.
Observasi Interpretatif
Gagasan Tema Utama
Rujukan-Kontext (Cross-References) & Penjelasan Singkat
Rangkaian Wawasan Tokoh-Tokoh Pengajaran Terkait
Beberapa penafsir kurun lama menegaskan bahwa contoh Bileam memperlihatkan bagaimana pengajaran sesat sering dipicu oleh motif pribadi. Matthew Henry menyoroti bahwa godaan utama adalah seruan untuk mengambil bagian dalam “upah perbuatan salah.” Albert Barnes menekankan pentingnya kesetiaan kepada firman Allah meskipun itu bertentangan dengan keuntungan duniawi. Adam Clarke menambah bahwa Bileam tetap tampil sebagai contoh kebijakan duniawi yang tanpa integritas rohani.
Kesimpulan Praktis
Jemaat diajak waspada terhadap godaan untuk menukar kebenaran dengan imbalan materi. Tetap pada jalan yang lurus berarti menimbang setiap ajaran dan motifnya di hadapan Tuhan, menjaga nurani agar tidak mudah tergoda oleh “upah” yang menyesatkan. Hidup yang setia kepada Kristus menuntut penolakan terhadap kompromi demi keuntungan pribadi, meski itu tampak menggiurkan di mata manusia.