Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiChapter
2 Raja-raja 1 2 Raja-raja 2 2 Raja-raja 3 2 Raja-raja 4 2 Raja-raja 5 2 Raja-raja 6 2 Raja-raja 7 2 Raja-raja 8 2 Raja-raja 9 2 Raja-raja 10 2 Raja-raja 11 2 Raja-raja 12 2 Raja-raja 13 2 Raja-raja 14 2 Raja-raja 15 2 Raja-raja 16 2 Raja-raja 17 2 Raja-raja 18 2 Raja-raja 19 2 Raja-raja 20 2 Raja-raja 21 2 Raja-raja 22 2 Raja-raja 23 2 Raja-raja 24 2 Raja-raja 25Verse
2 Raja-raja 1:1 2 Raja-raja 1:2 2 Raja-raja 1:3 2 Raja-raja 1:4 2 Raja-raja 1:5 2 Raja-raja 1:6 2 Raja-raja 1:7 2 Raja-raja 1:8 2 Raja-raja 1:9 2 Raja-raja 1:10 2 Raja-raja 1:11 2 Raja-raja 1:12 2 Raja-raja 1:13 2 Raja-raja 1:14 2 Raja-raja 1:15 2 Raja-raja 1:16 2 Raja-raja 1:17 2 Raja-raja 1:18



Gambaran Umum Lintas Konteks 2 Raja-raja 1:13
Aksi Elia dan raja Israel Ahab berlanjut dalam pola yang berulang: nabi menantang kesombongan raja, sedangkan raja menyalahkan situasi atau mencari perlindungan di luar Allah. Dalam ayat ini, panglima ketiga yang diperintahkan raja mohon belas kasih kepada Elia sambil mengingatkan pentingnya nyawa bagi dirinya dan seluruh pasukan.
Ayat demi ayat dalam konteks pasal
Dalam 2 Raja-raja 1 bagian ini, raja Israel Ahaziah mencari perlindungan setelah jatuh sakit. Elia datang sebagai utusan Allah yang menegaskan otoritas Allah atas segala rencana manusia. Ketika panglima ketiga datang bersama lima puluh pasukannya dan berlutut, ia mengakui kewenangan Elia dan memohon agar nyawanya serta nyawa pasukannya dipelihara karena sang tuan (raja) meminta demikian.
Pokok rohani utama
Keberanian untuk merendahkan diri di hadapan Allah melalui perantaraan nabi menunjukkan kebenaran iman: manusia tidak bisa mengandalkan kekuasaan fisik maupun otoritas duniawi ketika Allah menilai hati. Permohonan panglima itu menonjolkan kepedulian terhadap nyawa orang-orangnya, tetapi juga memperlihatkan bahwa keselamatan tidak datang dari kekuasaan manusia melainkan dari penyerahan kepada kehendak Allah melalui nabi-Nya.
Pembanding aliran komentar klasik
Beberapa komentator publik domain berpendapat bahwa tindakan panglima itu mencerminkan kebiasaan menghadapi nabi bangsa itu: hormat, ketundukan, dan permohonan belas kasihan. Mereka melihatnya sebagai contoh bagaimana orang-orang biasa dapat menjadi perantara pengakuan akan kedaulatan Allah meski berada di bawah pengaruh otoritas raja. Matthew Henry menekankan tema ketaatan kepada Tuhan melalui perantaraan nabi, sementara Adam Clarke menyoroti unsur belas kasihan Allah yang tetap bekerja meskipun konteksnya nampak tegang. Satu kutipan ringkas dari karya-karya mereka (tanpa penyajian teks panjang) mencatat bahwa keselamatan berasal dari Allah, bukan dari taktik duniawi.
Korelasi Alkitabiah yang relevan
Penjelasan singkat: hubungan antara otoritas ilahi, ketaatan manusia, dan belas kasihan Allah menegaskan bahwa perlindungan sejati bersumber pada persetujuan Allah, bukan pada strategi manusia semata.
Penerapan praktis
Ringkasan
Ayat ini menampilkan panglima ketiga yang datang dengan sikap rendah hati di hadapan Elia, memohon belas kasihan untuk dirinya dan seluruh pasukan. Dalam konteks 2 Raja-raja 1, tindakan ini menekankan bahwa perlindungan sejati berasal dari Allah, lewat kedaulatan-Nya yang dinyatakan melalui nabi-Nya. Contoh ini mengingatkan kita untuk berserah kepada Allah, menjaga empati terhadap sesama, dan menghormati otoritas ilahi meskipun situasi kelihatan menguji iman.
Catatan sumber: Perbandingan pendek dengan karya Matthew Henry, Albert Barnes, dan Adam Clarke menegaskan tema ketaatan kepada Allah melalui perantaraan nabi dan pemulihan belas kasihan ilahi. Kutipan ringkas mereka diakui sebagai rujukan singkat terkait tema, tanpa teks penuh.