Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiVerse
1 Timotius 1:1 1 Timotius 1:2 1 Timotius 1:3 1 Timotius 1:4 1 Timotius 1:5 1 Timotius 1:6 1 Timotius 1:7 1 Timotius 1:8 1 Timotius 1:9 1 Timotius 1:10 1 Timotius 1:11 1 Timotius 1:12 1 Timotius 1:13 1 Timotius 1:14 1 Timotius 1:15 1 Timotius 1:16 1 Timotius 1:17 1 Timotius 1:18 1 Timotius 1:19 1 Timotius 1:20



1 Timotius 1:20 (IDN) – Ringkasan Pembaca
Dalam suratnya kepada Timotius, Rasul Paulus menyinggung dua pemimpi dan pemberontak gereja lokal. Ayat ini menyatakan bahwa Himenus dan Iskandar telah diserahkan kepada Iblis, agar mereka diajar agar tidak menghujat. Frasa ini menunjukkan tindakan disiplin gereja yang serius untuk menjaga kemurnian ajaran dan menjaga jemaat dari pengaruh yang menyesatkan, sambil tetap mengangkat prinsip kasih dan pertobatan.
Pembacaan Ayat dalam Konteks Pasal
Pasal pertama surat ini berfokus pada penegasan tujuan hukum rohani: penataan iman, peringatan terhadap sesatnya ajaran, dan penanganan masalah di antara jemaat. Dalam konteks ini, Paulus menunjukkan bahwa jabatan gereja membutuhkan kewaspadaan, terutama terhadap mereka yang berusaha menambah atau mengganti inti ajaran Kristus. Dikeluarkannya Himenus dan Iskandar menegaskan bahwa gereja tidak dapat membiarkan penyangkalan kebenaran mengakar, meski hal itu berpotensi menimbulkan disfungsi budaya rohani di antara orang percaya.
Inti Iman yang Terkandung
Pandangan utama ayat ini adalah disiplin gereja dalam menjaga ajaran sejati. Perintah “diserahkan kepada Iblis” dipahami sebagai langkah penataan atau pemulihan yang tegas, bukan perintah balas dendam. Tujuannya adalah agar mereka diajar untuk tidak menghujat. Di balik tindakan tegas ini terdapat dorongan kasih: menghindari pengajaran yang menyesatkan dan memulihkan kedudukan nama Kristus di tengah jemaat.
Renungan dari Tokoh-Tokoh Klasik (Ringkas)
Beberapa komentar gereja abad-abad lalu menekankan bahwa tindakan disiplin ini bukanlah akhir dari perjalanan rohani seseorang, melainkan bagian dari proses pembinaan komunitas iman yang sehat. Mereka menekankan perlunya penegakan disiplin dengan tujuan pemulihan, bukan sekadar hukuman. Berikut beberapa gambaran singkat yang sering dirujuk dalam tradisi penafsiran:
Rujukan Alkitab yang relevan
Beberapa bagian Alkitab lain memperlihatkan prinsip disiplin gereja demi pemulihan:
Penerapan Praktis bagi Jemaat Sekarang
Ayat ini menuntut keseimbangan antara kasih dan ketaatan pada kebenaran. Gereja perlu:
Hubungan dengan Ayat Lain
- Ayat-ayat seputar disiplin gereja menggarisbawahi tujuan pemurnian komunitas iman. Efesus 4:15–16 menekankan pertumbuhan dalam kebenaran; 2 Tesalonika 3:14–15 mengimbau tegas tetapi tetap dalam kasih. 1 Korintus 5 menampilkan contoh bagaimana jemaat menanggapi pelanggaran serius agar tidak merusak tubuh Kristus.
Penutup: Inti Pesan bagi Kita
Ampuhannya bersifat praktis: menjaga kebenaran, melindungi jemaat dari ajaran yang meragukan, sambil memelihara sikap pengampunan dan pemulihan bagi pelanggar. Disiplin bukan tujuan akhir, melainkan alat untuk membangun komunitas yang kudus bagi Tuhan.
Catatan singkat mengenai kutipan klasik
Dalam literatur komentar klasik, beberapa hal yang sering diulang adalah upaya menempatkan ayat ini dalam pola pemurnian gereja. Kisah ini sering dipakai untuk menegaskan bahwa menjaga ajaran utama Kristus adalah prioritas, dan bahwa kasih menuju pemulihan tetap ada meski diperlukan tindakan tegas.