Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiNahum 2:3 Tafsiran ayat Alkitab
Nahum 2:3 Penjelasan dan tafsiran ayat Alkitab
Bahwa perisai segala pahlawannya sudah jadi merah, segala orang perwira sudah jadi kirmizi warnanya; segala sabit rata perangnya itu api adanya apabila ia siap akan berperang, dan segala lembingpun dilayamkan.
Nahum 2:3 Tafsiran ayat Alkitab
*** Tafsiran ini memuat materi yang berasal dari sumber-sumber klasik dalam domain publik. Sebagian materi telah diproses, diringkas, atau diterjemahkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kami menyarankan Anda untuk membandingkan setiap penjelasan dengan teks Alkitab dan konteks lengkapnya. Jika menemukan kesalahan atau terjemahan yang perlu diperbaiki, silakan hubungi kami.
Nahum 2:3 Referensi silang ayat
Jelajahi ayat-ayat terkait yang memiliki tema, pengajaran, atau konteks yang berhubungan dengan bagian ini. Referensi silang ini membantu Anda membandingkan ayat dan memahami pesan Alkitab dengan lebih mendalam. Pilih salah satu gambar untuk membaca ayat terkait, penjelasan, dan tafsiran Alkitabnya.

Yehezkiel 23:14 (IDN) »
Bahkan, dibuatnya zinah yang lagi lebih jahat, karena demi dilihatnya tulisan orang laki-laki pada dinding, yaitu peta orang Kasdim tertulis dengan sedelinggam,

Yesaya 14:8 (IDN) »
Lagipun segala pohon senobar bersukacita akan kamu, demikianpun segala pohon araz yang di Libanon, katanya: Dari pada masa engkau terhantar di sana seorangpun tiada naik ke mari akan menebang kami.

Yesaya 63:1 (IDN) »
Siapakah dia yang datang dari Edom, yang datang dari Bozra dengan tepercik pakaiannya? dia, yang berpakaikan indah-indah serta berjalan dengan perkasanya dan kebesaran kuatnya? Bahwa itulah Aku yang berkata-katakan barang yang benar dan yang berkuasa akan menolong.
Nahum 2:3 (IDN) – Makna Ringkas
Inti dari ayat ini adalah gambaran kemarahan dan kekuatan militer yang menonjol pada saat pengepungan. Perisai, sabit, lembing, dan senjata lain menunjukkan kesiapsiagaan prajurit Israel dan kepemimpinan musuh yang siap berperang; warna merah yang mencolok menandakan keberanian, kemegahan, dan ancaman yang nyata.
Latar Kontekstual
Nahum menulis secara keras tentang kejatuhan Niniweh. Ayat ini bagian dari deskripsi visual mengenai kekuatan militer yang akan dikepung dan dihancurkan. Dalam konteks kitab Nahum, penggambaran ini menekankan bahwa kekuatan ramainya tenteram dan persenjataan menuntun pada kehancuran, karena Allah mendatangkan hukuman atas keangkuhan kota tersebut.
Observasi Penafsiran
Pemikiran Teofisial yang Ringkas
Gambaran perisai, sabit, dan senjata menyiratkan bahwa kekuatan manusia bisa begitu megah, namun tetap berada di bawah rencana ilahi. Allah yang mengatur siklus perang dan damai, dan dalam konteks Nahum, Dia yang memimpin runtuhnya kota yang telah menantang-Nya dengan keangkuhan.
Hubungan dengan Bagian Lain
Beberapa bagian terkait yang memiliki nuansa serupa adalah:
Inti Praktis yang Ringkas
Ayat ini mengingatkan bahwa persiapan manusia tidak boleh menggantikan kedaulatan Allah. Kedisiplinan dan kesiapan militer bisa menguntungkan, tetapi umat Allah memahami bahwa kemenangan terakhir berada di tangan-Nya.
Catatan Penafsiran Lenyap (Ringkas)
Beberapa penafsir terdahulu menekankan unsur visual kekuatan militer sebagai gambaran kehadiran keadilan ilahi; tidak ada penggambaran kekerasan tanpa maksud hakiki yaitu penegakan keadilan Tuhan atas kejahatan yang telah diulang-ulang.
Penautan Silang
Cross-reference 1: Wahyu 19:11-16 — gambaran pasukan ilahi yang menegakkan keadilan dengan kekuatan surgawi; menjelaskan bahwa kemenangan terakhir berasal dari kekudusan dan hak Allah.
Cross-reference 2: Yesaya 13:4 — laporan tentang manusia yang bersiap untuk perang namun pada akhirnya Tuhan yang menegakkan kehendak-Nya.
Cross-reference 3: Habakuk 1:6 — orang yang menindas dan kekejaman diizinkan Tuhan untuk berakhir sesuai rencana-Nya.
Prinsip inti: Kesiapan manusia perlu diselaraskan dengan kedaulatan Allah; karya-Nya melampaui persenjataan manusia, dan penghukuman-Nya tetap menjadi tujuan terakhir.