Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiVerse
Lukas 20:1 Lukas 20:2 Lukas 20:3 Lukas 20:4 Lukas 20:5 Lukas 20:6 Lukas 20:7 Lukas 20:8 Lukas 20:9 Lukas 20:10 Lukas 20:11 Lukas 20:12 Lukas 20:13 Lukas 20:14 Lukas 20:15 Lukas 20:16 Lukas 20:17 Lukas 20:18 Lukas 20:19 Lukas 20:20 Lukas 20:21 Lukas 20:22 Lukas 20:23 Lukas 20:24 Lukas 20:25 Lukas 20:26 Lukas 20:27 Lukas 20:28 Lukas 20:29 Lukas 20:30 Lukas 20:31 Lukas 20:32 Lukas 20:33 Lukas 20:34 Lukas 20:35 Lukas 20:36 Lukas 20:37 Lukas 20:38 Lukas 20:39 Lukas 20:40 Lukas 20:41 Lukas 20:42 Lukas 20:43 Lukas 20:44 Lukas 20:45 Lukas 20:46 Lukas 20:47



Lukas 20:6 dalam Konteks
Ayat ini merupakan bagian dari dialog antara para imam kepala dan ahli-ahli kitab dengan Yesus. Mereka mencoba menahan diri dari menjawab langsung pertanyaan-Nya tentang otoritas-Nya, karena takut kehilangan daya tarik publik jika menyatakan identitas Yohanes Pembaptis sebagai nabi atau tidak. Mereka menyoroti risiko manusiawi dari jawaban mereka: jika mereka berkata “Ya,” mereka akan dituduh memihak orang banyak yang yakin Yohanes adalah nabi; jika berkata “Tidak,” mereka akan kehilangan dukungan rakyat. Yesus menolak memberi jawaban yang beresiko secara politis dan rohani, menuntut respons yang jujur kepada otoritas-Nya sendiri.
Makna Kunci
Ayat ini menyoroti dilema yang dihadapi para pemimpin awam mengenai identitas Yusuf Yohanes Pembaptis sebagai nabi. Mereka menyadari reputasi publik Yohanes, tetapi memilih menjaga keamanan politik mereka sendiri daripada menilai kebenaran otoritas Yohanes atau otoritas Allah yang dinyatakan melalui Yohanes. Inilah pola yang menegaskan bahwa otoritas ilahi tidak bisa disangkal dengan strategi manusiawi.
Ada Dua Tema Utama
Rujukan yang Berkaitan
Refleksi Praktis
Bagaimana kita merespons saksi-saksi Allah dalam hidup kita? Terkadang kita tergoda menilai kebenaran berdasarkan apakah itu menguntungkan secara sosial. Namun, iman menuntut penegasan kebenaran secara perorangan di hadapan Allah. Ketika kita dihadapkan pada kesaksian tentang karya Allah, kita dipanggil untuk mengakui kebenaran itu, walau konsekuensinya menantang kenyamanan kita.
Inti Penutup
Ayat ini menegaskan bahwa kedudukan Allah tidak tergantung pada pendapat manusia. Pengakuan atas otoritas yang dinyatakan melalui para nabi, termasuk Yohanes, tetap relevan meski menimbulkan risiko bagi pemuka agama dan politisi. Respons kita terhadap wahyu Allah adalah bagian dari iman yang tumbuh dalam ketaatan.
Cuplikan Pemikiran Para Komentar Terdahulu
Beberapa penafsir publik domain menyoroti bahwa konflik antara kebenaran ilahi dan pertimbangan manusiawi sering terulang: manusia ingin menjaga ketenteraman sosial sambil menolak menilai kebenaran secara jujur. Dalam tradisi komentar gereja lama, sikap yang benar adalah ketaatan kepada Allah di atas ketakutan manusia, meskipun hal itu menimbulkan gesekan sosial.
Penutup Singkat
Peristiwa ini mengingatkan kita untuk menimbang hidup kita di bawah terang Allah, mengakui otoritas-Nya, dan tidak menunda jawaban iman karena tekanan dunia. Allah tetap berkuasa atas semua otoritas manusia dan memanggil umat-Nya untuk merespon dengan iman yang jujur.