Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiHagai 1:6 Tafsiran ayat Alkitab
Hagai 1:6 Penjelasan dan tafsiran ayat Alkitab
Kamu menaburkan banyak, tetapi hasilnya hanya sedikit; kamu makan, tetapi bukan sampai kenyang; kamu minum, tetapi bukan sampai puas hati; kamu berpakai-pakai, tetapi bukan sampai suhu tubuhmu, dan barangsiapa yang menerima upah, ia itu menerima upahnya dalam pundi-pundi yang berpesok.
Hagai 1:6 Tafsiran ayat Alkitab
*** Tafsiran ini memuat materi yang berasal dari sumber-sumber klasik dalam domain publik. Sebagian materi telah diproses, diringkas, atau diterjemahkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kami menyarankan Anda untuk membandingkan setiap penjelasan dengan teks Alkitab dan konteks lengkapnya. Jika menemukan kesalahan atau terjemahan yang perlu diperbaiki, silakan hubungi kami.
Hagai 1:6 Referensi silang ayat
Jelajahi ayat-ayat terkait yang memiliki tema, pengajaran, atau konteks yang berhubungan dengan bagian ini. Referensi silang ini membantu Anda membandingkan ayat dan memahami pesan Alkitab dengan lebih mendalam. Pilih salah satu gambar untuk membaca ayat terkait, penjelasan, dan tafsiran Alkitabnya.

Hagai 1:9 (IDN) »
Bahwa kamu ingin akan banyak, maka kamu beroleh hanya sedikit, dan apabila kamu sudah membawa pulang akan dia, lalu Aku menghembus ke dalamnya. Mengapa maka begitu? demikianlah firman Tuhan serwa sekalian alam: Oleh karena sebab rumah-Ku yang rusak adanya, sedang hatimu bersukacita, masing-masing akan rumahnya sendiri.

Maleakhi 3:9 (IDN) »
Bahwa laknat, bahkan, laknat itu kamu datangkan atas dirimu, hai segenap bangsa ini, sebab kamu hendak menipu Aku!

Hosea 8:7 (IDN) »
Karena mereka itu sudah menabur angin, tak akan jangan mereka itu akan mendapat tofan; bahwa tiada akan bertumbuh mayang-mayang gandum padanya; adalah ia itu pucuk yang tiada berbiji-biji; jikalau kiranya adalah isinya, niscaya kelak dimakan habis juga oleh orang keluaran akan dia.
Tinjauan Pembaca tentang Hagai 1:6
Dalam Hagai pasal 1, umat Israel menghadapi keadaan tidak berkelimpahan karena mereka menunda pembangunan bait suci setelah kembali dari pembuangan. Ayat 6 menyoroti ketidakberhasilan akibat prioritas yang salah: hasil bekerja tidak lagi membawa kepuasan seperti seharusnya. Pesan ini menantang pembaca untuk memikirkan ukuran kemakmuran sejati bukan hanya berdasarkan volume kerja, melainkan terkait dengan tujuan dan kesehatian hati di hadapan Allah.
Konteks pasal dan ayat
Hagai menyampaikan surat nubuat kepada bangsa Yehuda setelah kembalinya dari Babilonia. Allah mengingatkan umat bahwa pekerjaan mereka, walau tampak produktif, tidak menghasilkan kemuliaan bagi-Nya karena motivasi dan prioritas mereka. Ayat 6 menggambarkan pola sia-sia: menabur banyak tetapi menuai sedikit, makan tanpa kenyang, minum tanpa kepuasan, pakaian tidak memuaskan, dan upah yang tidak memberi manfaat. Gambaran ini menunjukkan bahwa pemeliharaan ilahi terikat pada fokus manusia pada kemuliaan Allah lebih dari sekadar aktivitas lahiriah.
Garis besar pelajaran rohani utama
Perbandingan dengan bagian Alkitab lain
Beberapa teks lain menegaskan tema serupa: kerja keras tanpa hikmat ilahi bisa menghasilkan pemborosan (bandingkan Amsal 16:26; Yeremia 17:10). Selain itu, Yesaya 55:2 menekankan bahwa kelelahan karena upaya manusia yang hilang arah tidak memberikan nilai kekal jika tidak dipimpin oleh Allah. Ayat Hagai menambahkan dimensi sumpah ilahi atas motivasi manusia: keberhasilan fisik tidak otomatis berarti berkenan di mata Allah jika tidak dibangun di atas landasan ketaatan dan tujuan rohani.
Aplikasi praktis bagi pembaca sekarang
Renungkan beberapa langkah konkret:
Rujukan silang singkat
- Amsal 10:22 menekankan bahwa berkat Tuhan meningkatkan, tetapi usaha manusia tanpa hikmat dapat sia-sia. Penjelasan singkat: berkat Allah membawa kepuasan yang hakiki bila disertai ketaatan.
- Hagai 2:19 mengingatkan bahwa apa yang tertunda bisa diberi kembali oleh Allah saat hati kita berubah menjadi benar di hadapan-Nya.
- Yeremia 29:11 mengandung janji damai dengan rencana Allah ketika kita menaati-Nya dengan hati.
Cuplikan wawasan dari tokoh-tokoh berbudaya publik doman
Pendapat ringkas para komentator klasik menempatkan ayat ini sebagai panggilan kepada pembaruan hati: melakukan pekerjaan dengan tujuan memuliakan Allah daripada sekadar menjejaki kepuasan duniawi. Saran umum mereka adalah menilai kembali ukuran kemakmuran: bukan berapa banyak yang ditabur, melainkan seberapa setia kita mempersembahkan hasilnya bagi pembangunan kerajaan Allah. Catatan singkat dari Almas Henry, Barnes, dan Clarke diambil secukupnya untuk konteks historis yang umum; tidak ada kutipan panjang yang relevan di sini selain jeda singkat berikut: “kamu menaburkan banyak, tetapi hasilnya hanya sedikit” dianalisis sebagai keperluan koreksi hati, bukan sekadar kritik ekonomi.
Ringkasan
Hagai 1:6 menegaskan bahwa kemakmuran sejati Allah mengalir saat hidup bertujuan bagi-Nya. Aktivitas yang tampak melimpah bisa menjadi sia-sia jika tidak diarahkan pada ketaatan dan rencana-Nya. Pembaca didorong untuk mengoreksi prioritas, mendorong pekerjaan yang memuliakan Allah, dan menantikan pemeliharaan-Nya ketika hati telah kembali kepada-Nya dengan sungguh-sungguh.