Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiChapter
Kejadian 1 Kejadian 2 Kejadian 3 Kejadian 4 Kejadian 5 Kejadian 6 Kejadian 7 Kejadian 8 Kejadian 9 Kejadian 10 Kejadian 11 Kejadian 12 Kejadian 13 Kejadian 14 Kejadian 15 Kejadian 16 Kejadian 17 Kejadian 18 Kejadian 19 Kejadian 20 Kejadian 21 Kejadian 22 Kejadian 23 Kejadian 24 Kejadian 25 Kejadian 26 Kejadian 27 Kejadian 28 Kejadian 29 Kejadian 30 Kejadian 31 Kejadian 32 Kejadian 33 Kejadian 34 Kejadian 35 Kejadian 36 Kejadian 37 Kejadian 38 Kejadian 39 Kejadian 40 Kejadian 41 Kejadian 42 Kejadian 43 Kejadian 44 Kejadian 45 Kejadian 46 Kejadian 47 Kejadian 48 Kejadian 49 Kejadian 50Verse
Kejadian 40:1 Kejadian 40:2 Kejadian 40:3 Kejadian 40:4 Kejadian 40:5 Kejadian 40:6 Kejadian 40:7 Kejadian 40:8 Kejadian 40:9 Kejadian 40:10 Kejadian 40:11 Kejadian 40:12 Kejadian 40:13 Kejadian 40:14 Kejadian 40:15 Kejadian 40:16 Kejadian 40:17 Kejadian 40:18 Kejadian 40:19 Kejadian 40:20 Kejadian 40:21 Kejadian 40:22 Kejadian 40:23

Kejadian 40:16 (IDN) — Latar dan Makna Iman
Sesudah penghulu penjawat santapan melihat tabir mimpinya sendiri, ia menyadari bahwa mimpi itu baik. Lalu ia menceritakan hal itu kepada Yusuf: ia pun bermimpi dan melihat dirinya membawa tiga buah rantang jala-jala di atas kepalanya.
Setting segera dalam konteks kisah
Ayat ini berada dalam bagian kisah Yusuf yang terkurung di penjara Mesir, setelah ia menafsirkan mimpi para tahanan. Penghulu penjawat santapan telah melihat tabir mimpinya yang berhubungan dengan makanan: ia mendapati dirinya menghidangkan roti berhiaskan buah anggur pada hari esok, tetapi mimpi itu membalik, menimbulkan harapan yang fana dan juga ketakutan akan arti yang belum diketahui. Yusuf kemudian memerlukan penafsiran untuk membantu penghuni istana melakukan faktor-faktor yang benar di hadapan Allah.
Apa yang dikemukakan teks tentang Allah atau iman
Kisah ini menekankan bahwa interpretasi mimpi bukan sekadar kejeniusan manusia, melainkan tuntutan kebenaran ilahi. Yusuf menegaskan bahwa Allah yang mengangkat isi hati dan memberi arti pada mimpi-mimpi. Iman yang terlihat di sini adalah iman yang menantikan penyataan Allah, bukannya bergantung pada kemampuan manusia semata. Melalui Yusuf, Allah menegaskan kendali-Nya atas kejadian-kejadian kecil maupun besar, termasuk mimpi para tahanan, yang akhirnya berperan dalam rencana penyelamatan keluarga serta bangsa Mesir.
Pemahaman kata dan gambaran penting
Gambaran “rantang jala-jala” adalah simbol pekerjaan penghulu penjagaan makanan: roti dan buah anggur yang disiapkan untuk raja. Tiga rantang sering dipandang sebagai angka kepastian dalam mimpi, menunjukkan bahwa masa depan akan dibatasi pada tiga bagian atau tahap. Perhatikan bahwa maksud mimpi di ayat ini adalah untuk mempersiapkan Yusuf menerima peran dalam rencana Tuhan, bukan hanya untuk menimbulkan kebingungan manusia semata. Tuhan menggunakan detail mimpi untuk membuka jalan bagi jawaban yang lebih besar di kemudian hari.
Cross-references singkat
Aplikasi bagi pembaca masa kini
Ketika kita menghadapi mimpi, tujuan kita bukan sekadar menafsirkan simbol-simbol, melainkan menanti arahan Allah. Allah yang memegang kendali atas setiap kejadian, sekecil apapun, dan Dia dapat membuktikan kesetiaan-Nya melalui cara-Nya sendiri. Dalam hidup kita, kita diajak untuk sabar, percaya, dan tetap setia, karena Allah bekerja melalui rencana-Nya yang lebih besar dari keinginan kita saat ini. Menjunjung amanat-Nya berarti membuka diri pada cara-Nya untuk menata hari-hari kita, bahkan melalui situasi yang tampaknya tidak jelas.
Ini juga mengingatkan kita bahwa praktik kebenaran dan integritas, seperti Yusuf, tetap relevan. Dalam menghadapi situasi sulit, kita dapat menaruh harapan pada pemeliharaan ilahi, sambil tetap setia pada pekerjaan kita hari itu juga.
Catatan kutipan singkat (tersedia dalam karya para komentator publik-domain): Matthew Henry menekankan bahwa mimpi adalah alat Allah untuk melukiskan rencana-Nya, sementara Albert Barnes menyoroti bahwa pernyataan mimpi di sini menandai permulaan penyelidikan Yusuf terhadap masa depan Mesir. Adam Clarke menambahkan bahwa mimpi adalah sarana ilahi untuk mengajarkan kebergantungan manusia kepada Tuhan dalam setiap kejadian.
Penafian: kutipan langsung singkat dari komentar Henry/Barnes/Clarke disertakan hanya jika tersedia secara singkat dalam bagian yang relevan.