Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiChapter
Kejadian 1 Kejadian 2 Kejadian 3 Kejadian 4 Kejadian 5 Kejadian 6 Kejadian 7 Kejadian 8 Kejadian 9 Kejadian 10 Kejadian 11 Kejadian 12 Kejadian 13 Kejadian 14 Kejadian 15 Kejadian 16 Kejadian 17 Kejadian 18 Kejadian 19 Kejadian 20 Kejadian 21 Kejadian 22 Kejadian 23 Kejadian 24 Kejadian 25 Kejadian 26 Kejadian 27 Kejadian 28 Kejadian 29 Kejadian 30 Kejadian 31 Kejadian 32 Kejadian 33 Kejadian 34 Kejadian 35 Kejadian 36 Kejadian 37 Kejadian 38 Kejadian 39 Kejadian 40 Kejadian 41 Kejadian 42 Kejadian 43 Kejadian 44 Kejadian 45 Kejadian 46 Kejadian 47 Kejadian 48 Kejadian 49 Kejadian 50Verse
Kejadian 2:1 Kejadian 2:2 Kejadian 2:3 Kejadian 2:4 Kejadian 2:5 Kejadian 2:6 Kejadian 2:7 Kejadian 2:8 Kejadian 2:9 Kejadian 2:10 Kejadian 2:11 Kejadian 2:12 Kejadian 2:13 Kejadian 2:14 Kejadian 2:15 Kejadian 2:16 Kejadian 2:17 Kejadian 2:18 Kejadian 2:19 Kejadian 2:20 Kejadian 2:21 Kejadian 2:22 Kejadian 2:23 Kejadian 2:24 Kejadian 2:25



Kejadian 2:24 – Makna Perikop dan Implikasi Hidup Berkeluarga
Inti interpretatif: Perkawinan dimulai sebagai penyatuan yang menjadikan dua individu satu diri, menandai ikatan yang mendasar antara suami istri sebagai landasan keluarga yang bertumbuh sejak awal penciptaan. Ayat ini menekankan pilihan total meninggalkan orang tua untuk membentuk ikatan baru bersama pasangan, sehingga keduanya menjadi satu kedagingan.
Konteks Sastra dan alur naratif
Bagian ini muncul setelah Tuhan menciptakan manusia dan memberikan berkat serta tempat tinggal. Dalam konteks kejadian manusia pertama, Allah menilai bahwa “tidak baik” manusia hidup seorang diri; karena itu diperlukan pendamping. Ayat 24 muncul sebagai penegasan akal sehat dari narasi penciptaan: ikatan pernikahan adalah institusi yang dirancang Tuhan sejak permulaan, memikul tanggung jawab moral dan sosial untuk membentuk keluarga yang berfungsi sebagai unit inti masyarakat.
Pelajaran teologis utama
Ayat ini menekankan beberapa prinsip teologis penting:
Kontak lintas Alkitab
Beberapa referensi yang relevan untuk memperdalam pemahaman:
Pertanyaan refleksi
- Bagaimana kita melihat prinsip meninggalkan orang tua sebagai bagian dari komitmen kepada pasangan?
- Dalam kehidupan rumah tangga modern, bagaimana kita menjaga kedagingan yang bermakna tanpa mengorbankan hormat kepada orang tua?
- Apa makna menjadi “satu daging” dalam konteks hubungan yang sehat dan komunitas gereja?
Kesimpulan singkat
Ayat ini menegaskan bahwa pernikahan adalah panggilan manusia untuk hidup dalam keutuhan bersama pasangan, dengan prioritas baru yang membentuk keluarga sebagai unit pertama dan utama dalam komunitas manusia. Ketika dua insan berikrar di hadirat Tuhan, mereka bukan lagi dua individu terpisah, melainkan satu tujuan dan satu identitas di dalam kasih Allah.
Pernyataan singkat dari komentar para penafsir publik domain:
Sejumlah otoritas klasik menyoroti bahwa “meninggalkan ayahnya dan ibunya” bukan sekadar pindah tempat, melainkan pembentukan komitmen baru yang menandai transisi identitas hidup dengan pasangan. Ringkasnya, pernikahan adalah pelaksanaan rencana Tuhan bagi kehidupan berkeluarga yang berangkat dari desain awal ciptaan.
Catatan silang singkat: Perkataan prinsip di ayat ini sejalan dengan ajaran kitab-kitab PB tentang institusi keluarga, sehingga menjadi pedoman bagi pembentukan komunitas gereja dan moral publik.