Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiChapter
Kejadian 1 Kejadian 2 Kejadian 3 Kejadian 4 Kejadian 5 Kejadian 6 Kejadian 7 Kejadian 8 Kejadian 9 Kejadian 10 Kejadian 11 Kejadian 12 Kejadian 13 Kejadian 14 Kejadian 15 Kejadian 16 Kejadian 17 Kejadian 18 Kejadian 19 Kejadian 20 Kejadian 21 Kejadian 22 Kejadian 23 Kejadian 24 Kejadian 25 Kejadian 26 Kejadian 27 Kejadian 28 Kejadian 29 Kejadian 30 Kejadian 31 Kejadian 32 Kejadian 33 Kejadian 34 Kejadian 35 Kejadian 36 Kejadian 37 Kejadian 38 Kejadian 39 Kejadian 40 Kejadian 41 Kejadian 42 Kejadian 43 Kejadian 44 Kejadian 45 Kejadian 46 Kejadian 47 Kejadian 48 Kejadian 49 Kejadian 50Verse
Kejadian 1:1 Kejadian 1:2 Kejadian 1:3 Kejadian 1:4 Kejadian 1:5 Kejadian 1:6 Kejadian 1:7 Kejadian 1:8 Kejadian 1:9 Kejadian 1:10 Kejadian 1:11 Kejadian 1:12 Kejadian 1:13 Kejadian 1:14 Kejadian 1:15 Kejadian 1:16 Kejadian 1:17 Kejadian 1:18 Kejadian 1:19 Kejadian 1:20 Kejadian 1:21 Kejadian 1:22 Kejadian 1:23 Kejadian 1:24 Kejadian 1:25 Kejadian 1:26 Kejadian 1:27 Kejadian 1:28 Kejadian 1:29 Kejadian 1:30 Kejadian 1:31



Kejadian 1:27 (IDN): Pokok interpretasi utama
Teks ini menegaskan bahwa manusia diciptakan menurut gambar Allah—sebuah penempatan identitas manusia pada hakikat dasar kemanusiaan. Manusia dilahirkan sebagai makhluk yang unik di antara ciptaan, dengan citra Allah sebagai dasar nilai, martabat, dan tujuan hidup. Penggambaran ini menekankan bahwa peran manusia di bumi tidak semata-mata berdasarkan kekuatan atau kecerdasan, melainkan panggilan untuk merefleksikan karakter Allah melalui hubungan, etika, dan budaya yang sehat.
konteks sastra
Bagian awal Kejadian menegaskan urutan ciptaan Allah: terang, langit, daratan, tumbuh-tumbuhan, binatang, dan akhirnya manusia. Diciptakannya manusia “atas peta Allah” menekankan bahwa manusia bukan produk kebetulan alam semesta, melainkan bagian dari rancangan Allah dengan tujuan untuk memenuhi citra ilahi dalam kehidupan sehari-hari. Gambar manusia sebagai khalik yang diciptakan dengan tujuan merawat, bermukun dengan Tuhan, dan menghadirkan moralitas dalam masyarakat.
Signifikansi teologis
Imago Dei di sini berarti manusia memiliki kehendak, kemampuan berelasi, tanggung jawab moral, dan kapasitas untuk beribadah. Kebenaran ini menjadi landasan nilai setiap umat manusia tanpa kecuali: martabat tidak tergantung pada status, rupa, atau prestasi. Dalam tradisi teologis lain yang kontekstual, imago Allah juga dilihat sebagai panggilan untuk hidup dalam ketaatan, kebenaran, dan kasih—ketiga unsur yang membedakan manusia dari ciptaan lainnya.
Koneksi lintas kitab
Pertanyaan untuk refleksi
Penutup singkat
Keberadaan manusia sebagai gambar Allah menegaskan bahwa hidup ini memiliki arah—berelasi dengan Allah, mengembangkan kebenaran, dan merawat ciptaan dalam kasih. Panggilan ini menuntun cara kita bekerja, berhubungan, dan membentuk masyarakat yang mencerminkan kasih ilahi.
Cuplikan pandangan klasik (ringkas, tidak menyalin secara penuh)
Dalam tradisi komentar berbahasa Inggris yang lama, gambaran manusia sebagai gambar Allah dipakai untuk menekankan martabat abadi dan keharusan hidup dalam ketaatan kepada Sang Pencipta. Puji dan teguran Alkitabia pun diarahkan pada upaya menjaga kemuliaan Allah dalam hidup pribadi dan komunitas.
Cross-references singkat
Imago Dei terkait erat dengan etika perikop berikut: manusia dipanggil untuk memperlakukan sesama dengan kasih (bandingkan 1 Yohanes 4:20-21), serta memelihara bumi dan makhluk lain dengan tanggung jawab seperti yang diperankan dalam Kejadian 1:28.
Catatan: Cuplikan langsung dari Matthew Henry, Albert Barnes, atau Adam Clarke hanya disebutkan sebagai rujukan gaya tradisional tanpa mengutip panjang teks asli secara eksplisit di sini.