Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiChapter
1 Samuel 1 1 Samuel 2 1 Samuel 3 1 Samuel 4 1 Samuel 5 1 Samuel 6 1 Samuel 7 1 Samuel 8 1 Samuel 9 1 Samuel 10 1 Samuel 11 1 Samuel 12 1 Samuel 13 1 Samuel 14 1 Samuel 15 1 Samuel 16 1 Samuel 17 1 Samuel 18 1 Samuel 19 1 Samuel 20 1 Samuel 21 1 Samuel 22 1 Samuel 23 1 Samuel 24 1 Samuel 25 1 Samuel 26 1 Samuel 27 1 Samuel 28 1 Samuel 29 1 Samuel 30 1 Samuel 31



1 Samuel 5:4 – Tafsiran singkat
Pada perikop sebelumnya, tabut perjanjian dibawa ke negeri Filistin sebagai respons terhadap kemarahan Allah atas umat Israel yang telah melanggar perjanjian. Tata kelola tabut itu menimbulkan tanda-tanda gengsi dan kemuliaan Allah di tengah bangsa Filistin. Namun, Dagon, dewa mereka, tidak berdaya di hadapan tabut Allah. Ayat ini melukiskan keesokan harinya: Dagon terjatuh dengan mukanya menunduk di hadapan tabut TUHAN, tetapi kepalanya dan kedua telapak tangan Dagon telah putus dan bergelimpangan di ambang pintu. Hanya badan Dagon yang tersisa sebagai batang tubuh.
Makna utama
Ayat ini menegaskan kedaulatan Allah di atas berhala-berhala. Tabut TUHAN bukan sekadar benda suci; kehadirannya menimbulkan respons ilahi terhadap kekuasaan yang menentangnya. Dagon, simbol kekuatan Filistin, tidak mampu menahan kehadiran TUHAN. Kehancuran bagian-bagian tubuh Dagon secara simbolik menunjukkan bahwa semua upaya manusia untuk mengalihkan penyembahan dari Allah kepada berhala sia-sia dan tidak berdaya di hadapan kemuliaan-Nya.
Tema-tema kunci
Pelajaran dari penafsiran klasik
Beberapa penafsir dalam tradisi bersaksi bahwa peristiwa ini menegaskan bahwa berhala hanyalah bayangan yang tidak berdaya menghadapi Juruselamat yang hidup. Dalam nuansa tersebut, karya para komentator publik domain seperti Matthew Henry, Albert Barnes, dan Adam Clarke menekankan bahwa kekuatan ilahi bukanlah sekadar simbolis, melainkan nyata dalam menertibkan penyembahan yang tidak benar. Mereka menggarisbawahi bahwa ketimpangan antara Allah yang hidup dan berhala-berhala menegaskan kasih-Nya yang menuntun umat-Nya pada kebenaran.
Cross-references yang relevan
Refleksi praktis: Kisah ini mengingatkan kita bahwa kehadiran Allah menuntut respons iman, bukan sekadar kekaguman terhadap sesuatu yang tampaknya sakral. Jika kita sering terjebak pada bentuk-bentuk religius tanpa hubungan pribadi dengan Allah, sekarang adalah saat kembali menempatkan TUHAN di pusat hidup, memurnikan penyembahan, dan menolak segala bentuk penyembahan yang menyaingi-Nya.
Ringkasan singkat
1 Samuel 5:4 menggambarkan kekalahan berhala Dagon di hadapan tabut TUHAN, penegasan bahwa Allah yang hidup berkuasa atas segala simbol kepercayaan manusia. Peristiwa ini mengajak kita menilai kembali pusat penyembahan kita dan menegaskan keyakinan bahwa Allah berkuasa menyelamatkan dan membentuk hidup umat-Nya sesuai firman-Nya.