Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiVerse
1 Korintus 11:1 1 Korintus 11:2 1 Korintus 11:3 1 Korintus 11:4 1 Korintus 11:5 1 Korintus 11:6 1 Korintus 11:7 1 Korintus 11:8 1 Korintus 11:9 1 Korintus 11:10 1 Korintus 11:11 1 Korintus 11:12 1 Korintus 11:13 1 Korintus 11:14 1 Korintus 11:15 1 Korintus 11:16 1 Korintus 11:17 1 Korintus 11:18 1 Korintus 11:19 1 Korintus 11:20 1 Korintus 11:21 1 Korintus 11:22 1 Korintus 11:23 1 Korintus 11:24 1 Korintus 11:25 1 Korintus 11:26 1 Korintus 11:27 1 Korintus 11:28 1 Korintus 11:29 1 Korintus 11:30 1 Korintus 11:31 1 Korintus 11:32 1 Korintus 11:33 1 Korintus 11:34


Intisari tafsiran: 1 Korintus 11:6
Pokok utama ayat ini menekankan tata krama budaya saat ibadah publik di Korintus: seorang perempuan sebaiknya memakai penutup kepala sebagai simbol kesopanan dan tunduk pada norma komunitasnya. Jika seseorang menentang praktik itu, maka sebaiknya pilihan tersebut dipertimbangkan dengan serius demi menjaga ketertiban dan kesopanan jemaat pada saat ibadah.
Konteks sastra
Ayat ini berada dalam bagian 1 Korintus 11 yang membahas tata cara ibadah, khususnya peran gender dan simbol-simbol kehormatan. Paulus menanggapi kekacauan budaya di Korintus tentang bagaimana anggota jemaat menampilkan diri saat beribadah. Penutup rambut bagi perempuan dan penutup kepala adalah bagian dari kode sopan santun publik pada masa itu, yang berfungsi membedakan peran dan menjaga ketertiban ibadah sebagai sakramen bersatu.
Signifikansi teologis
Inti teologisnya bukan sekadar hukum budaya, melainkan pengakuan terhadap berkat diserahkan kepada tatanan ciptaan. Penutup kepala bagi perempuan berfungsi sebagai simbol keterikatan pada otoritas ilahi dan kesatuan jemaat. Namun, prinsip yang lebih mendasar adalah menjaga ketertiban, kehormatan, dan tidak menjadi hambatan bagi penyembahan yang fokus pada Kristus.
Wawasan dari sumber berbahasa publik domain
Penafsiran klasik menyoroti dua hal: (1) kebiasaan budaya pada zaman itu terkait penutup kepala memperlihatkan kebebasan jemaat dari gangguan budaya dan (2) penekanan bahwa dilakukan agar jemaat tidak mencampuri peran sejenis dalam ibadah. Ringkasnya, penutup kepala adalah simbol ketertiban dan kesopanan, yang “menghindarkan malu” bagi jemaat dan ibadah secara umum.
Quotations (ringkas) yang relevan dari tokoh-tokoh berbahasa Inggris berbahasa lama yang mungkin dibaca dalam karya publik domain: Matthew Henry menekankan bahwa penggunaan penutup kepala adalah tanda kehormatan bagi kehadiran malaikat dan penyelarasan dengan ketertiban ilahi; Albert Barnes menekankan bahwa praktik ini bersifat budaya dan bukan hukum abadi, yang tujuannya adalah menjaga sikap sopan santun dalam ibadah; Adam Clarke menekankan perlunya membedakan antara budaya zaman Paulus dan prinsip universal tentang ketertiban ibadah. (Catatan: kutipan spesifik singkat dapat ditemukan dalam karya ber-domain publik masing-masing.)
Hubungan Alkitabiah
Beberapa rujukan lintas untuk dipertimbangkan:
Pertanyaan refleksi
Kesimpulan singkat
Ayat ini menegaskan pentingnya menjaga tata krama ibadah dengan memperhatikan simbol-simbol yang menyingkap ketertiban dan kehormatan komunitas. Prinsip utamanya adalah menjaga fokus ibadah pada Kristus sambil menghormati budaya lokal yang tidak bertentangan dengan kemuliaan Allah. Dalam praktik gereja masa kini, kita menimbang budaya dengan hati yang empat, mengutamakan kesopanan ibadah, dan tetap berpegang pada kasih Kristus.
Catatan lintas silang singkat
Rujukan silang ini membantu mengaitkan tema: (1) prinsip ketertiban ibadah (1 Korintus 14:40), (2) peran gender dalam perjumpaan gereja (Efesus 5:22–33), (3) fokus pada penyembahan kepada Kristus (Kolose 3:16–17).