Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiChapter
1 Tawarikh 1 1 Tawarikh 2 1 Tawarikh 3 1 Tawarikh 4 1 Tawarikh 5 1 Tawarikh 6 1 Tawarikh 7 1 Tawarikh 8 1 Tawarikh 9 1 Tawarikh 10 1 Tawarikh 11 1 Tawarikh 12 1 Tawarikh 13 1 Tawarikh 14 1 Tawarikh 15 1 Tawarikh 16 1 Tawarikh 17 1 Tawarikh 18 1 Tawarikh 19 1 Tawarikh 20 1 Tawarikh 21 1 Tawarikh 22 1 Tawarikh 23 1 Tawarikh 24 1 Tawarikh 25 1 Tawarikh 26 1 Tawarikh 27 1 Tawarikh 28 1 Tawarikh 29Verse
1 Tawarikh 21:1 1 Tawarikh 21:2 1 Tawarikh 21:3 1 Tawarikh 21:4 1 Tawarikh 21:5 1 Tawarikh 21:6 1 Tawarikh 21:7 1 Tawarikh 21:8 1 Tawarikh 21:9 1 Tawarikh 21:10 1 Tawarikh 21:11 1 Tawarikh 21:12 1 Tawarikh 21:13 1 Tawarikh 21:14 1 Tawarikh 21:15 1 Tawarikh 21:16 1 Tawarikh 21:17 1 Tawarikh 21:18 1 Tawarikh 21:19 1 Tawarikh 21:20 1 Tawarikh 21:21 1 Tawarikh 21:22 1 Tawarikh 21:23 1 Tawarikh 21:24 1 Tawarikh 21:25 1 Tawarikh 21:26 1 Tawarikh 21:27 1 Tawarikh 21:28 1 Tawarikh 21:29 1 Tawarikh 21:30



Inti Penafsiran: Kemah TUHAN di Bukit Gibeon (1 Tawarikh 21:29)
Gema utama ayat ini menekankan bahwa pada masa itu tempat pertaubatan dan penyembahan umat Israel berpindah dari kemah suci Musa di padang Tiah ke bukit Gibeon, tempat mezbah korban bakaran didirikan. Perubahan lokasi ini menegaskan geserannya fokus rohani umat kepada tempat ibadah yang telah Allah tunjukkan melalui respons nabi-nabi dan perintah suci; meski demikian, Allah tetap hadir secara nyata dalam kemah Gibeon sebagaimana Ia pernah berdiam di kemah Musa.
Tinjauan sastra dan konteks liturgi
Ayat ini muncul dalam rangkaian catatan sejarah tentang ibadah pusat Israel setelah masa penaklukan. Dalam perjalanan sejarah, tempat ibadah bisa berpindah sesuai instruksi ilahi atau situasi politik. Pada masa Daud, perbincangan tentang ibadah dan tempat korban menjadi penting karena umat perlu memiliki pusat ibadah yang sah dan bebas gangguan politik, sambil menjaga kesinambungan tradisi persembahan kepada TUHAN.
Signifikansi teologis
1) Pemulihan fokus ibadah: meski lokasi berubah, inti ibadah tetap kepada TUHAN yang berbanner perjanjian. 2) Pengakuan atas penyertaan Allah: Allah melibatkan umat-Nya dalam memperbarui tempat persembahan sesuai rencana-Nya. 3) Ketaatan terhadap perintah-Nya: peralihan ini menandai ketaatan terhadap kehendak Allah, bukan keinginan manusia semata.
Hubungan dengan bagian lain alkitab
– Hubungan dengan kemah Musa: kemah awal di padang Tiah menunjukkan pola ibadah yang ditetapkan Allah sebelum lokasi fokus dipindah. Inilah terdapat paralel dengan bagaimana Allah berbuat di tempat-tempat suci lainnya ketika umat perlu menyesuaikan diri dengan tugas rohani.
– Hubungan dengan mezbah korban bakaran: mezbah di bukit Gibeon menggarisbawahi perlunya pusat persembahan yang sah di mata Allah. Perpindahan semacam ini juga terjadi di masa lain ketika ada penataan ulang ibadah.
Penyeimbang teologi melalui ahli tafsir klasik
Ada beberapa pandangan dari para ahli Perjanjian Lama yang menekankan bahwa tempat ibadah bukanlah tujuan akhir, melainkan media penyembahan yang mengarahkan umat kepada sedi beribadah kepada Allah secara benar. Dalam karya-karya Adam Clarke, Matthew Henry, dan Albert Barnes, penekanan pada kehadiran Allah di tempat ibadah lebih penting daripada lokasi fisik semata. Mereka menyoroti bahwa fokus utama adalah ketaatan kepada perintah Tuhan dan kesetiaan dalam penyembahan.
Cross-references dan hubungan maknai
Penjelasan singkat mengenai referensi silang: Gibeon maupun kemah Musa menyoroti bahwa keberadaan Tuhan dalam ibadah adalah prioritas, bukan sekadar lokasi fisik. Ayat-ayat ini mengingatkan kita bahwa Allah selalu mengajak umat-Nya untuk bertemu-Nya dalam ketaatan dan penyembahan yang benar.
Pertanyaan reflektif
Kesimpulan singkat
1 Tawarikh 21:29 menegaskan bahwa di masa itu, lokasi ibadah Israel berpusat pada kemah TUHAN di Gibeon sebagai perpanjangan dari tradisi Musa. Inti yang terpenting adalah kehadiran Allah yang menyertai umat dalam penyembahan yang benar, dan ketaatan umat terhadap rencana-Nya, meski tempat ibadah bisa berubah sesuai kehendak ilahi.
kutipan singkat dari penafsir klasik: "Tanda utama ibadah adalah kehadiran Allah lebih daripada bangunan," catatan ringkas yang tercermin dari penekanan para komentator pada peran ilahi di atas bentuk fisik tempat ibadah.