Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiChapter
Ayub 1 Ayub 2 Ayub 3 Ayub 4 Ayub 5 Ayub 6 Ayub 7 Ayub 8 Ayub 9 Ayub 10 Ayub 11 Ayub 12 Ayub 13 Ayub 14 Ayub 15 Ayub 16 Ayub 17 Ayub 18 Ayub 19 Ayub 20 Ayub 21 Ayub 22 Ayub 23 Ayub 24 Ayub 25 Ayub 26 Ayub 27 Ayub 28 Ayub 29 Ayub 30 Ayub 31 Ayub 32 Ayub 33 Ayub 34 Ayub 35 Ayub 36 Ayub 37 Ayub 38 Ayub 39 Ayub 40 Ayub 41 Ayub 42



Makna Langsung Ayub 27:13
Ayub 27:13 menyatakan bahwa bagian orang fasik ditetapkan oleh Allah, serta warisan yang mereka peroleh dari Yang Mahakuasa. Ayub menegaskan bahwa penghidupan orang zalim adalah hasil dari ketetapan ilahi, bukan kebetulan atau peluang semata. Secara ringkas, ayat ini menyoroti realitas kehendak Allah yang berdaulat atas nasib manusia, termasuk pelaku kejahatan.
Latar belakang konteks
Ayat ini muncul dalam rangkaian dialog Ayub dengan teman-temannya, di mana Ayub menegaskan bahwa penderitaannya tidak menunjukkan ketidakadilan Allah. Ia menutup bagian pembicaraan temannya dengan menegaskan bahwa bagi orang fasik, masa depannya adalah hasil dari kehendak Tuhan sendiri. Dalam kitab Ayub secara keseluruhan, tema keadilan ilahi dan kedaulatan Allah sering dipertentangkan dengan pengalaman manusia yang penuh persoalan.
Interpretasi kunci
Rujukan silang yang relevan
Gagasan praktis yang terarah
Catatan mengenai kutipan dari Bapa-Terkenal (pernyataan singkat yang relevan)
Kutipan singkat dari sumber-sumber publik domain seperti Matthew Henry, Albert Barnes, dan Adam Clarke dapat dipakai sebagai referensi historis tanpa menyalin teks panjang. Dalam konteks ini, ide mereka menekankan bahwa penderitaan orang benar tidak selalu meniadakan rencana Allah yang adil, sementara nasib orang fasik tetap berada di bawah pemerhatian ilahi.
Ringkasnya
Ayub 27:13 menggarisbawahi kedaulatan Allah atas masa depan orang fasik dan kenyataan bahwa “pusaka” mereka adalah hasil dari pemerintahan Tuhan. Dalam konteks kitab Ayub, ayat ini mengundang pembaca untuk menjaga iman pada sifat adil Allah meskipun pengalaman dunia membingungkan. Nasihat praktisnya: tetap berpegang pada integritas dan pengakuan bahwa Allah tahu jalan hidup setiap orang, termasuk jalan hidup kita sendiri.