Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiChapter
Ayub 1 Ayub 2 Ayub 3 Ayub 4 Ayub 5 Ayub 6 Ayub 7 Ayub 8 Ayub 9 Ayub 10 Ayub 11 Ayub 12 Ayub 13 Ayub 14 Ayub 15 Ayub 16 Ayub 17 Ayub 18 Ayub 19 Ayub 20 Ayub 21 Ayub 22 Ayub 23 Ayub 24 Ayub 25 Ayub 26 Ayub 27 Ayub 28 Ayub 29 Ayub 30 Ayub 31 Ayub 32 Ayub 33 Ayub 34 Ayub 35 Ayub 36 Ayub 37 Ayub 38 Ayub 39 Ayub 40 Ayub 41 Ayub 42



Ayub 14:11 (IDN): "Bahwa air habis mengalir dari dalam tasik, dan sungai-sungaipun kekeringanlah menjadi tanah;"
Pasal ini berada dalam satu bagian percakapan Ayub dengan Tuhan, setelah Ayub meratap tentang kefanaan hidup manusia dan kemerosakan yang ia lihat di sekelilingnya. Ayub menyoroti bagaimana kemarau dan kekurangan air menunjukkan kefanaan manusia yang rapuh. Dalam konteks kitab Ayub, kata-kata ini menguatkan tema utama: kemuliaan Allah, batas kehidupan manusia, serta perlunya percaya meskipun keadaan terasa tidak adil atau misteri.
Apa yang ditegaskan teks tentang Allah atau iman
Ayub 14:11 menggambarkan limbah air yang mengeringkan harapan duniawi jika tidak ada pertolongan ilahiyah. Dalam pola kitab Ayub, kemarau air mengingatkan bahwa hanya Tuhan yang mengatur kelangsungan hidup. Meskipun manusia menilai diri kuat dan berkuasa, kenyataannya hidup berada di bawah kendali Tuhan. Keyakinan iman di sini adalah bahwa Allah memiliki kuasa atas alam semesta, termasuk sumber kehidupan. Ayub menantang pembaca untuk melihat kefanaan manusia dengan mata yang benar: perbudakan pada kehendak Tuhan, dan kebutuhan berakal untuk bergantung pada-Nya.
Istilah dan gambaran penting
Rangkaian silang yang relevan
Beberapa lintasan Alkitab memberikan konteks serupa tentang kemahakuasaan Allah dan kefanaan manusia:
Penekanan: imannya ditempatkan pada firman Tuhan yang tidak berubah.
Pengaplikasian bagi kehidupan hari ini
Dalam kesulitan dan ketidakpastian, kita diingatkan untuk menahan diri dari mengandalkan kepastian duniawi semata. Ketika air kehidupan terasa surut—secara pribadi, keuangan, kesehatan, atau tujuan—kita dipanggil untuk menoleh kepada Tuhan sebagai sumber segala hidup. Doa, pertobatan, dan ketergantungan pada kasih-Nya menjadi respons yang tepat ketika rencana manusia tampak gagal. Meskipun situasi manusia sering tidak adil, iman tetap menempatkan Tuhan sebagai jurubicara utama atas kehidupan kita, sekaligus memelihara harapan bahwa Dia mampu memulihkan dan menjaga kita sesuai kehendak-Nya.
Penjelasan singkat dengan rujukan lintas
Rujukan lintas ini menguatkan inti pesan:
Inti tafsiran: Ayub 14:11 menegaskan kefanaan manusia dan kekuasaan Tuhan atas hidup serta sumber daya alam. Dalam konteks masa percakapan Ayub, ayat ini mengajak pembaca untuk tetap mengandalkan Tuhan bahkan ketika keadaan menuntut pengharapan yang baru dan penyerahan sepenuhnya kepada hikmat-Nya.
Quotations from classic commentators (parafrase Indonesian): Ayub 14:11 dipahami sebagai gambaran bahwa kepergian air dan kehidupan ke dalam tanah melambangkan kemustahilan manusia untuk menuntut stabilitas di atas bumi tanpa kehadiran Tuhan. Ayub menyorot bahwa kehidupan manusia singkat dan bergantung pada kuasa Allah; umat manusia perlu menanti belas kasih-Nya untuk pertumbuhan dan pemeliharaan.
Catatan singkat: Pada konteks ini tidak ada kutipan langsung panjang dari para komentator publik domain di atas; namun, ide-ide inti mereka menguatkan pandangan bahwa kekuasaan Tuhan atas alam semesta dan kefanaan manusia menjadi landasan iman yang bertahan di tengah penderitaan.