Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiChapter
Keluaran 1 Keluaran 2 Keluaran 3 Keluaran 4 Keluaran 5 Keluaran 6 Keluaran 7 Keluaran 8 Keluaran 9 Keluaran 10 Keluaran 11 Keluaran 12 Keluaran 13 Keluaran 14 Keluaran 15 Keluaran 16 Keluaran 17 Keluaran 18 Keluaran 19 Keluaran 20 Keluaran 21 Keluaran 22 Keluaran 23 Keluaran 24 Keluaran 25 Keluaran 26 Keluaran 27 Keluaran 28 Keluaran 29 Keluaran 30 Keluaran 31 Keluaran 32 Keluaran 33 Keluaran 34 Keluaran 35 Keluaran 36 Keluaran 37 Keluaran 38 Keluaran 39 Keluaran 40



Keluaran 31:17 (IDN)
“Maka sabat itulah menjadi suatu tanda di antara Aku dengan segala bani Israel sampai selama-lamanya, maka ia itu sebab Tuhanpun telah menjadikan langit dan bumi dalam enam hari lamanya dan Tuhan telah berhenti pada hari yang ketujuh serta disenangkannya diri-Nya.”
Setting segera teks
Pasal 31 berada dalam bagian perintah Allah kepada umat Israel melalui Musa, menjelang penjanjian dengan Allah di Gunung Sinai. Di sini Allah menegaskan sabat sebagai tanda perjanjian-Nya dengan umat-Nya, bukan sekadar kewajiban ritus, melainkan identitas dan relasi dengan-Nya. Dalam konteksnya, pekerjaan manusia dan Tuhan dipertemukan: Allah bekerja dalam penciptaan dan umat membentuk pola hidup yang mencerminkan kehadiran-Nya.
Apa yang diungkap teks tentang Allah dan iman
Sabat dipandang sebagai tanda hubungan antara Allah dan umat-Nya. Allah sendiri mengingatkan bahwa Ia adalah Pencipta yang menyelesaikan pekerjaan-Nya dalam enam hari dan berhenti pada hari ketujuh, menegaskan wujud-Nya sebagai Tuhan yang berkuasa atas waktu dan ciptaan. Dalam pandangan iman, sabat menuntun umat pada ketergantungan kepada Allah, bukan pada kerja tanpa henti atau budaya kerja modern semata. Sabat menjadi gejala iman yang hidup: umat Allah berhenti dari pekerjaan rutin untuk meresapi kasih dan pemeliharaan-Nya.
Kata-kata kunci dan gambaran penting
Kaitan dengan kitab lain (cross-references)
— Kejadian 2:2-3 menunjukkan makna sabat dalam aspek penciptaan dan pemberkatan hari ketujuh sebagai waktu istirahat Tuhan.
— Imamat 23:3 mengartikulasikan sabat sebagai pola ibadah mingguan bagi umat Israel sebagai bagian dari hidup suci mereka.
— Yesaya 58:13-14 menghubungkan seorang yang menjaga sabat dengan kebahagiaan dan pemulihan pribadi serta hubungan dengan Tuhan.
Pengaplikasian sekarang
Sabat dalam konteks ini menuntun orang percaya untuk menyeimbangkan kerja dengan ketenangan bergantung pada Allah. Dalam kehidupan modern, sabat tidak selalu berarti berhenti pada hari tertentu, tetapi menjaga ritme itu: menunda kelelahan berlebih, mengutamakan waktu beribadah, doa, dan pembacaan Firman, serta mempererat hubungan dengan keluarga dan komunitas sebagai tanda kasih Allah.
Refleksi menurut para penafsir klasik
Matthew Henry menekankan bahwa sabat adalah “tanda antara Allah dan umat-Nya” yang menegaskan identitas mereka sebagai umat pilihan melalui ketetapan-Nya. Albert Barnes menyoroti bahwa sabat bukan sekadar berhenti bekerja, melainkan peringatan tentang perlunya mempercayai penyelenggaraan Tuhan. Adam Clarke menambahkan gambaran bahwa Tuhan berhenti karena karya-Nya sempurna, menjadi teladan bagi umat untuk menghormati masa istirahat sebagai bagian dari hikmat hidup. (Ringkasan insight ini mengacu pada pola penafsiran umum para komentator klasik.)
Catatan kutipan langsung terlampir jika ada: Teks aslinya tidak menyertakan kutipan panjang dari Henry, Barnes, atau Clarke dalam bagian ini; namun ringkasan pemikiran mereka dirangkum secara sintetis di atas.