Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiPengkhotbah 6:3 Tafsiran ayat Alkitab
Pengkhotbah 6:3 Penjelasan dan tafsiran ayat Alkitab
Jikalau kiranya seorang beranak seratus dan hidup beberapa berapa tahun lamanya, sehingga panjanglah sangat umur hidupnya sekalipun, tetapi tiada puas hatinya dengan barang yang baik dan lagi tiada ia dikuburkan dengan sepertinya, niscaya kataku kelak bahwa baiklah anak gugur dari pada orang yang begitu.
Pengkhotbah 6:3 Tafsiran ayat Alkitab
*** Tafsiran ini memuat materi yang berasal dari sumber-sumber klasik dalam domain publik. Sebagian materi telah diproses, diringkas, atau diterjemahkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kami menyarankan Anda untuk membandingkan setiap penjelasan dengan teks Alkitab dan konteks lengkapnya. Jika menemukan kesalahan atau terjemahan yang perlu diperbaiki, silakan hubungi kami.
Pengkhotbah 6:3 Referensi silang ayat
Jelajahi ayat-ayat terkait yang memiliki tema, pengajaran, atau konteks yang berhubungan dengan bagian ini. Referensi silang ini membantu Anda membandingkan ayat dan memahami pesan Alkitab dengan lebih mendalam. Pilih salah satu gambar untuk membaca ayat terkait, penjelasan, dan tafsiran Alkitabnya.

Ayub 3:16 (IDN) »
atau sekarang bukan aku seperti anak guguran yang terbuang, seperti anak-anak yang tiada tahu melihat siang.

Yeremia 22:19 (IDN) »
Melainkan dikuburkan oranglah akan dia seperti ditanamnya akan bangkai keledai, dan dihelanya akan dia dan dibuangnya akan dia jauh dari pada pintu-pintu Yeruzalem.

2 Raja-raja 9:35 (IDN) »
Maka turunlah mereka itu hendak menguburkan dia, tetapi satupun tiada didapatinya dari padanya melainkan tengkoraknya dan kedua belah kakinya dan kedua tapak tangannya.
Pengkhotbah 6:3 (IDN) — Ringkasan dan Makna
Ayat ini menyuguhkan refleksi nyata tentang kepuasan hidup dan arti berkat yang sesungguhnya. Pengkhotbah menimbang sebuah skenario: seseorang beranak seratus, hidup panjang, tetapi tidak puas hati dengan apa yang dimilikinya dan tidak diberi penghormatan seperti orang tua. Dalam cuplikan ini terlihat kritik terhadap pemujaan umur panjang dan kekayaan sebagai ukuran kebahagiaan, serta dorongan untuk menilai hidup dari kualitas hubungan dengan Tuhan dan sesama, bukan sekadar kuantitas pengalaman dunia.
Isi ayat dalam konteks pasal
Dalam Pengkhotbah pasal 6, Pengkhotbah menyelidiki kepuasan batin dan kegagalan manusia meraih arti lewat kekayaan atau panjang umur. Ayat 3 menyiratkan bahwa bahkan jika seseorang memiliki banyak keturunan dan hidup lama, jika hatinya tidak puas serta hidupnya tidak berharga di mata Tuhan, maka nasibnya kurang berguna. Pilihan kata menekankan nilai batin—kepuasan, tujuan, dan relasi dengan Tuhan—lebih penting daripada jumlah harta atau umur.
Pokok spiritual utama
Kaitan dengan firman lain
Beberapa ayat lain menyoroti tema serupa:
Ketiga rujukan ini membantu kita melihat bahwa pengelolaan hidup secara rohani lebih penting dari penimbunan materi atau umur panjang sebagai ukuran sukses.
Penerapan praktis
Interpretasi singkat dari para penafsir terdahulu
Para penafsir Bogor-Public Domain seperti Matthew Henry, Albert Barnes, dan Adam Clarke menekankan bahwa pujian hidup tidak boleh diukur dari panjangnya umur atau jumlah anak, melainkan dari kepuasan rohani dan hubungan yang benar dengan Tuhan. Sesuai tradisi kajian mereka, ayat ini menegaskan bahwa hidup yang berarti adalah hidup yang memuliakan Tuhan, meskipun secara lahiriah tampak tidak berlimpah.
Catatan singkat: tidak ada kutipan lengkap teks dari Henry, Barnes, atau Clarke dalam bagian ini, tetapi mereka menekankan makna prinsipil bahwa tuhan-patuh dan integritas rohani lebih berharga daripada harta atau usia semata.
Rujukan silang yang relevan
Beberapa referensi yang sejalan:
Inti ajaran ayat ini adalah dorongan untuk menilai hidup menurut kualitas rohani, kepuasan hati di hadapan Tuhan, serta pelayanan yang membawa berkat bagi sesama, bukan sekadar ukuran duniawi.