Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiVerse
Pengkhotbah 3:1 Pengkhotbah 3:2 Pengkhotbah 3:3 Pengkhotbah 3:4 Pengkhotbah 3:5 Pengkhotbah 3:6 Pengkhotbah 3:7 Pengkhotbah 3:8 Pengkhotbah 3:9 Pengkhotbah 3:10 Pengkhotbah 3:11 Pengkhotbah 3:12 Pengkhotbah 3:13 Pengkhotbah 3:14 Pengkhotbah 3:15 Pengkhotbah 3:16 Pengkhotbah 3:17 Pengkhotbah 3:18 Pengkhotbah 3:19 Pengkhotbah 3:20 Pengkhotbah 3:21 Pengkhotbah 3:22



Pengkhotbah 3:5 (IDN) — Masa untuk membuang batu dan masa untuk mengumpulkan batu
Setting segera: Khotbah Pengkhotbah membuka dengan satu rangkaian waktu yang berpasangan. Ayat ini adalah bagian dari daftar “ada waktu” yang mengilustrasikan keseimbangan hukum hidup di bawah matahari. Dalam konteks, ayat ini menunjukkan bahwa hidup manusia dipenuhi dengan ritme tindakan yang berlawanan: ada saat melangkah maju dan saat menahan diri; ada saat mempererat hubungan dan ada saat melepaskan diri. Ayat ini menegaskan bahwa tidak ada kondisi yang berlangsung selamanya—setiap tindakan memiliki waktu dan tujuan yang tepat di bawah kendali Tuhan.
Apa yang ditegaskan teks tentang Allah dan iman
Teks ini menyoroti bahwa Allah berdaulat atas seluruh rentang aktivitas manusia. Dia tidak mengubah pola waktu secara acak; setiap masa memiliki tujuan-Nya untuk membentuk hikmat, ketekunan, dan keseimbangan jiwa. Pengkhotbah mengajak pembaca untuk menerima kehendak Allah dalam segala fluktuasi hidup, sehingga iman tidak terpotong oleh keregatan keadaan, melainkan tumbuh melalui kedalaman pengalaman yang berbeda-beda.
Penjelasan kata dan citraan penting
Meskipun hanya sebagian frasa yang disajikan pada ayat ini, makna “masa membuang batu” dan “masa mengumpulkan batu” dapat dipahami sebagai metafora tindakan aktif yang berlawanan. Mengeluarkan batu bisa diartikan sebagai melemparkan beban atau menyelesaikan sebuah pekerjaan, sementara mengumpulkan batu menandai perencanaan, pembangunan, atau pemetaan masa depan. Dalam konteks kebiasaan Israel kuno, batu adalah simbol kerja, konstruksi, dan juga beban. Oleh karena itu, waktu untuk melakukan keduanya menutup dengan pesan bahwa manusia perlu bijak memilih kapan bertindak dan kapan menahan diri.
Perbandingan dengan sumber komentar teologis publik domain
Beberapa penafsir klasik menekankan bahwa pasal ini mengajar tentang kepantasan hidup di bawah Tuhan: ada masa untuk tindakan yang aktif, ada masa untuk refleksi, dan keduanya berjalanan dalam kebijaksanaan ilahi. Dalam pola yang mirip, para komentator lama menekankan bahwa manusia seharusnya tidak terlalu menahan diri hingga kehilangan peluang, juga tidak terlalu gegabah hingga menimbulkan kerugian. (Catatan ringkas dari kolaborasi panduan tafsiran: sejalan dengan pandangan klasik, tidak ada sikap tunggal yang universal untuk semua keadaan; setiap masa memiliki tujuan untuk memurnikan hidup manusia di hadapan Tuhan.)
Entri silang terkait (cross-references) dan hubungan singkat
Aplikasi praktis untuk hidup kita hari ini
1) Terima ritme hidup dengan kebijaksanaan: kenali kapan saat untuk bertindak dan kapan saat menahan diri. 2) Percaya bahwa masa-masa berbeda membentuk karakter; melalui pergeseran ini, iman kita tumbuh dalam ketergantungan pada Tuhan. 3) Cari hikmat saat membuat keputusan penting—pertimbangkan konsekuensi jangka panjang, bukan sekadar kebutuhan sesaat. 4) Doakan agar Tuhan menuntun langkah kita pada saat-saat kritis, sehingga tindakan kita selaras dengan rencana-Nya.
Catatan singkat tentang kutipan dari tokoh komentar klasik: Penggubah tradisional seperti Matthew Henry, Albert Barnes, dan Adam Clarke menekankan bahwa kehidupan dibangun atas permainan waktu yang diduduki oleh hikmat ilahi; meski saya tidak menampilkan kutipan panjang di sini, aset pandangan mereka menunjukkan bahwa keseimbangan tindakan dan penundukan diri adalah bagian esensial dari hikmat hidup di hadapan Tuhan.