Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiVerse
2 Samuel 3:1 2 Samuel 3:2 2 Samuel 3:3 2 Samuel 3:4 2 Samuel 3:5 2 Samuel 3:6 2 Samuel 3:7 2 Samuel 3:8 2 Samuel 3:9 2 Samuel 3:10 2 Samuel 3:11 2 Samuel 3:12 2 Samuel 3:13 2 Samuel 3:14 2 Samuel 3:15 2 Samuel 3:16 2 Samuel 3:17 2 Samuel 3:18 2 Samuel 3:19 2 Samuel 3:20 2 Samuel 3:21 2 Samuel 3:22 2 Samuel 3:23 2 Samuel 3:24 2 Samuel 3:25 2 Samuel 3:26 2 Samuel 3:27 2 Samuel 3:28 2 Samuel 3:29 2 Samuel 3:30 2 Samuel 3:31 2 Samuel 3:32 2 Samuel 3:33 2 Samuel 3:34 2 Samuel 3:35 2 Samuel 3:36 2 Samuel 3:37 2 Samuel 3:38 2 Samuel 3:39



Makna Langsung Ayat 2 Samuel 3:14
Daud mengutus utusan kepada Isyboset bin Saul untuk meminta Mikhal, istrinya, kembali. Ia menuntut Mikhal dengan syarat: diberikanlah Mikhal yang telah diperolehnya sebagai gono-gini, yaitu dengan seratus kulup orang Filistin, sebagai tebusan yang membuktikan hak kepemilikan dan perjanjian antara Daud dan Saul.
Latar belakang kontekstual
Setelah kematian Saul, Daud telah menobatkan dirinya sebagai raja di sebagian besar daerah Israel. Mikhal, istri Daud, telah dipulangkan kepada ayahnya karena konflik antara Daud dan Saul (1 Samuel 25; 2 Samuel 3:14 mengacu pada keadaan sebelumnya). Permintaan ini terjadi dalam masa krisis peralihan kekuasaan, ketika Daud berupaya menegaskan haknya atas Mikhal sebagai bagian dari legimitasi pernikahannya, sekaligus menegaskan konsesi politik terhadap tokoh-tokoh yang terikat pada Saul.
Interpretasi inti
- Daud menempatkan identitas pernikahan sebagai bagian dari legitimasi kekuasaannya, bukan sekadar urusan pribadi. Hak atas Mikhal menjadi simbol pergeseran kekuasaan yang sah menurut janji Allah atas Daud serta hak-hak keluarga raja.
- Teguran batasan hukum: sumpah pernikahan dan pembelian hak melalui gono-gini menekankan bahwa pernikahan dan hak waris memiliki konteks politik dan sosial yang kuat pada masa itu.
Pengamatan tematik singkat
Referensi silang yang relevan
- 1 Samuel 18:27 dan 2 Samuel 4:7–8: menguraikan konteks hilangnya Mikhal dan upaya pemulihannya sebagai bagian dari relasi kekuasaan antara Daud dan Saul.
- 2 Samuel 5:1–3: penegasan, setelah perundingan dengan suku-suku Israel, mengenai kepemimpinan Daud sebagai raja atas seluruh Israel; pernikahan dan hak-hak genealogis menjadi faktor pendukung legitimasi.
Arah praktis yang relevan
Kedalaman narasi ini mengingatkan kita bahwa keutuhan janji dan identitas Allah bagi pemimpin tidak eksklusif bagi status pribadi semata, melainkan terkait dengan tanggung jawab publik dan integritas hubungan keluarga dalam rencana Allah.
Ringkasan penafsiran: Ayat ini menegaskan bahwa hak pernikahan dan gono-gini bukan sekadar urusan pribadi, melainkan bagian dari struktur kekuasaan dan janji Allah atas keturunan Daud. Daud menggunakan haknya secara sah untuk menegaskan kedudukan dan menjaga kesinambungan dinasti yang diberkati Allah.
Catatan singkat dari sumber klasik: - Matthew Henry menekankan aspek hak waris dan kepatuhan raja terhadap janji Allah. - Albert Barnes menafsirkan tindakan ini dalam kerangka pembukaannya jalan bagi legitimasi Daud sebagai raja yang dipercayai Allah. - Adam Clarke menyoroti bahwa gono-gini berfungsi sebagai mekanisme hukum pada masa itu untuk menegakkan klaim pernikahan dan hak istri.