Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiVerse
2 Samuel 11:1 2 Samuel 11:2 2 Samuel 11:3 2 Samuel 11:4 2 Samuel 11:5 2 Samuel 11:6 2 Samuel 11:7 2 Samuel 11:8 2 Samuel 11:9 2 Samuel 11:10 2 Samuel 11:11 2 Samuel 11:12 2 Samuel 11:13 2 Samuel 11:14 2 Samuel 11:15 2 Samuel 11:16 2 Samuel 11:17 2 Samuel 11:18 2 Samuel 11:19 2 Samuel 11:20 2 Samuel 11:21 2 Samuel 11:22 2 Samuel 11:23 2 Samuel 11:24 2 Samuel 11:25 2 Samuel 11:26 2 Samuel 11:27



Artian Makna 2 Samuel 11:11 (IDN)
Inti ayat ini adalah respon Uria terhadap perintah Daud yang coba membujuknya untuk pulang ke istana dan berbaring dengan istrinya. Uria menegaskan bahwa ia tidak bisa menikmati kenyamanan rumah ketika tabut Allah dan bala tentara Israel masih berkubur di medan perang. Ia menunjukkan kesetiaan kepada tanggung jawab perang dan mendapat sorotan sebagai pribadi yang tidak mengutamakan kenyamanan pribadi di saat bangsa sedang berduka dan berjuang.
Latar Konteks Singkat
Peristiwa ini terjadi setelah Daud berbuat zina dengan Batsyeba dan merencanakan kematian Uria yang setia. Uria adalah satu dari perang tentara dan hidupnya mencerminkan disiplin militer serta komitmen kepada tugas daripada kehidupan rumah tangga pribadi di saat perang. Ayat ini menampilkan kejujuran dan integritas Uria meskipun berada dalam situasi yang sulit bagi dirinya maupun raja.
Observasi Penafsiran
Hubungan Teologis & Referensi Ringkas
Beberapa penafsir dalam tradisi gereja menggarisbawahi bahwa Ketidaksetujuan Uria menjadi kontras dengan kelengahan Daud, mempertegas perlunya integritas pribadi di tengah godaan kekuasaan. Dalam catatan para komentator publik domain, pandangan singkat yang relevan antara lain:
Ayat terkait untuk Refleksi
Pandangan Praktis
Ayat ini mengajar bahwa integritas pribadi tetap diperlukan bahkan ketika tidak ada saksi. Kesetiaan pada tugas dan tanggung jawab umat lebih utama daripada kenyamanan pribadi. Dalam konteks iman, aroma ketidakberpura-pura menjadi teladan: jujur terhadap panggilan Allah, sekalipun menghadapi tekanan dari pihak yang berkuasa.
Inti Pesan
Kepada pembaca: kejujuran, kesetiaan pada tugas, dan menahan diri dalam menghadapi peluang untuk memanipulasi situasi adalah nilai penting bagi hidup rohani dan kepemimpinan yang benar.