Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiChapter
2 Raja-raja 1 2 Raja-raja 2 2 Raja-raja 3 2 Raja-raja 4 2 Raja-raja 5 2 Raja-raja 6 2 Raja-raja 7 2 Raja-raja 8 2 Raja-raja 9 2 Raja-raja 10 2 Raja-raja 11 2 Raja-raja 12 2 Raja-raja 13 2 Raja-raja 14 2 Raja-raja 15 2 Raja-raja 16 2 Raja-raja 17 2 Raja-raja 18 2 Raja-raja 19 2 Raja-raja 20 2 Raja-raja 21 2 Raja-raja 22 2 Raja-raja 23 2 Raja-raja 24 2 Raja-raja 25Verse
2 Raja-raja 23:1 2 Raja-raja 23:2 2 Raja-raja 23:3 2 Raja-raja 23:4 2 Raja-raja 23:5 2 Raja-raja 23:6 2 Raja-raja 23:7 2 Raja-raja 23:8 2 Raja-raja 23:9 2 Raja-raja 23:10 2 Raja-raja 23:11 2 Raja-raja 23:12 2 Raja-raja 23:13 2 Raja-raja 23:14 2 Raja-raja 23:15 2 Raja-raja 23:16 2 Raja-raja 23:17 2 Raja-raja 23:18 2 Raja-raja 23:19 2 Raja-raja 23:20 2 Raja-raja 23:21 2 Raja-raja 23:22 2 Raja-raja 23:23 2 Raja-raja 23:24 2 Raja-raja 23:25 2 Raja-raja 23:26 2 Raja-raja 23:27 2 Raja-raja 23:28 2 Raja-raja 23:29 2 Raja-raja 23:30 2 Raja-raja 23:31 2 Raja-raja 23:32 2 Raja-raja 23:33 2 Raja-raja 23:34 2 Raja-raja 23:35 2 Raja-raja 23:36 2 Raja-raja 23:37



2 Raja-raja 23:21 (IDN) – Makna dan konteksnya
Ayat ini menutup bagian perlaksanaan perintah Musa pada zaman raja Yosia. Setelah memicu pembaruan rohani di Yerusalem, Yosia memerintahkan seluruh bangsa untuk merayakan Pasal Tuhan, Allahnya, sesuai dengan kitab perjanjian yang tersurat. Dalam konteks pasal ini, tindakan itu menegaskan kembalinya fokus umat pada perjanjian dengan Allah dan penataan ibadah yang murni sesuai hukum Tuhan yang telah ada sebelumnya, meski konteks pasal ini berada di tengah reformasi yang dipimpin seorang raja yang berusaha membubarkan praktik-praktik ibadah yang menyeleweng.
Makna pokok ayat
Ayat ini menegaskan keputusan Yosia untuk merayakan Pascha bersama seluruh bangsa, menunjukkan kepatuhan pada perjanjian Allah dan tekad untuk menegakkan ketaatan kolektif. “Pasah bagi Tuhan” bukan sekadar perayaan historis, melainkan simbol penyatuan umat dalam kasih dan ketaatan kepada Allah yang menebus mereka dari perbudakan Mesir. Perintah ini juga menekankan bahwa ibadah sejati membutuhkan partisipasi semua warga dan kesetiaan terhadap catatan kitab perjanjian.
Tema utama
Perhimpunan tokoh teologis (ringkas)
Beberapa tokoh berpendapat bahwa Yosia secara pribadi menegaskan kembali status Pascha sebagai perayaan utama. Dalam karya para komentator timeless seperti Matthew Henry, Albert Barnes, dan Adam Clarke, prinsipnya menekankan bahwa pembaruan rohani menuntut tindakan nyata: menyucikan ibadah, menghapus penyimpangan, dan menguatkan identitas bangsa di dalam hubungan perjanjian dengan Tuhan.
Cuplikan pendek dari sumber-sumber klasik tersebut (tanpa menyalin seluruh teks) menekankan bahwa reformasi Yosia bukan sekadar ritual, melainkan penyejajaran ulang hati bangsanya dengan Allah. Secara umum, mereka menyoroti bahwa ketaatan pada kitab perjanjian adalah inti dari pemulihan iman bangsa.
Hubungan dengan bagian lain
Cross-reference yang relevan:
Penjelasan singkat: kelima referensi menggarisbawahi bahwa ibadah yang sah lahir dari ketaatan pada perjanjian, bukan sekadar ritus semata; kembalinya umat pada hakikat hubungan dengan Tuhan menjadi inti pembaruan rohani.
Perenungan praktis
Bagaimana kita merayakan Pascha hari ini? Intinya adalah mengikat diri pada komitmen perjanjian Allah, menilai kembali praktik ibadah yang kita lakukan, dan memastikan bahwa iman kita terwujud dalam tindakan kasih, keadilan, dan kebenaran. Pengajaran ini menuntut partisipasi menyeluruh: komunitas umat tidak hanya menghadap kepada Tuhan secara pribadi, tetapi secara bersama-sama menegakkan identitas iman di tengah budaya yang beragam.
Ringkasan singkat
2 Raja-raja 23:21 menegaskan deklarasi Yosia untuk memasyarakatkan Perayaan Pascha bagi Tuhan, Allah Israel, sesuai kitab perjanjian. Perayaan ini mengandung inti iman: ketaatan pada firman Allah, pembaruan ibadah, dan pemulihan identitas umat yang hidup dalam hubungan perjanjian dengan-Nya.